1. 1. Ilmu Dibutuhkan Di Setiap Waktu
Setiap langkah dan gerak manusia telah ditentukan tata caranya dalam syari’at, sehingga kebutuhan kita kepada ilmu jauh melebihi kebutuhan kepada makanan dan minuman.
Imam Ahmad berkata: “Manusia lebih membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman. Hal itu karena makanan dan minuman diperlukan dalam satu hari sekali atau dua kali, sedangkan ilmu diperlukan di setiap waktu”. (Miftah Dar Sa’adah, Ibnul Qoyyim, I/301-tahqiq Syaikh Ali Hasan)
  1. 2. Lebih Bakhil Dengan Waktu Daripada Harta
Mengingat besarnya nilai waktu bagi kehidupan seorang muslim dalam ketaatan kepada Allah, maka sebagian salaf dahulu sangat pandai dalam memanfaatkan waktu yang dimilikinya.
Al-Hasan berkata: “Aku telah bertemu dengan kaum yang mana salah seorang di antara mereka lebih bakhil dengan usianya daripada dengan dirham-dirham dan dinar-dinarnya”. (Al-Zuhd, Ibnu Mubarak, no.8)
  1. 3. Thalabul ‘Ilmi Di Waktu Muda
Ketika seseorang masih kecil, dan dia menghafal sesuatu masalah ilmiah, maka ia akan lebih melekat dan lebih menghujam dalam dirinya. Hal itu sebagaimana diungkapkan oleh al-Hasan: “(Menuntut) ilmu pada waktu kecil itu laksana mengukir di atas batu”. (Al-Madkhal Ila as Sunan al-Kubra, al-Baihaqi (no.640, hal.375), al-Faqih wa al-Mutafaqqih (II/91 tashhih Syaikh Muhammad Ismail al-Anshari)
Di antara pengalaman yang telah dialami oleh ‘Alqomah adalah sebagai berikut, beliau mengatakan: “Apa saja yang aku hafalkan ketika aku masih muda, seakan-akan aku sekarang membacanya dari sebuah buku catatan”. (Al-Madkhal Ila as-Sunan al-Kubra, al-Baihaqi no.642, hal.376)
  1. 4. Pencuri Waktu, Mengobrolkan Perkara yang Tidak Perlu
Salah satu sebab hilangnya waktu yang amat mulia bagi seorang muslim adalah dengan cara diajak mengobrol oleh orang yang banyak bicara, padahal obrolannya bukanlah tentang perkara yang banyak manfaatnya. Oleh karena itu ada yang mengatakan: “Barangsiapa yang banyak bicara kepadamu, maka ia mencuri waktumu dan menjadikan waktumu hilang dengan sia-sia”. (Ta’lim al-Muta’allim, hal.127)
  1. 5. Tidak Menghabiskan Waktu, Dengan Membahas Tentang “si Fulan dan si Fulan.”
Syaikh Ali menjelaskan bahwa Syaikh Ahmad an-Najmi telah ditanya sebagaiman dalam kitabnya al-Kawasyif al-Jaliyyah, (hal.27-28) tentang orang-orang yang menyibukkan diri-diri mereka dengan membicarakan tentang kaum hizbiyyin
ag
dan tentang perkataan mereka: “Bagaimana pendapat Anda tentang Fulan? Bagaimana pendapat Anda tentang Fulan?”
Terhadap pertanyaan ini, Syaikh an-Najmi menjawab: “Sesungguhnya mubalaghah (berlebih-lebihan) dalam masalah-masalah ini akan mengeluarkan penuntut ilmu dari lingkaran kebenaran kepada jadal (perdebatan) dan menyia-nyiakan waktu dengan membicarakan yang tidak menghasilkan faedah, bahkan seseorang menjadi berada dalam halaqah yang kosong. Ini tidak sepantasnya.
Bahkan yang wajib (dilakukan) oleh penuntut ilmu adalah menyibukkan waktunya dalam taat kepada Allah, meneliti masalah ilmiyyah dan menghadiri halaqah-halaqah.
Tidak mengapa mendengar tahdzir (peringatan tentang bahaya kaum hizbiyyin) dari mereka -yaitu dari ulama ahlu sunnah- dan penjelasan tentang sifat-sifat mereka agar dapat berhati-hati dari mereka.
Adapun sekiranya kita menjadikan semua waktu kita dalam membicarakan tentang mereka dan tidak menyibukkan dengan thalabul ‘ilmi yang akan memberikan manfaat untuk kita, maka -tidak diragukan lagi- bahwa ini adalah kesalahan yang besar dan kekeliruan yang fatal”. (Manhaj as-Salaf ash-Shalih fi Ushul an-Naqd wa al-Jarh wa an-Nasha-ih, karya Syaikh Ali al-Halabi, ad-Dar al-Atsariyyah, hal.83-84)
[Roni Abu Ahnaf]
dikutip dari majalah adz-dzakiiroh..