Masih kusisir pandangan mataku ke luar. Ada sesuatu yang indah dipandang dan berhasil kupotret lalu kurekam dengan penaku ini. Pucuk daun tengah memekarkan bunganya nan menawan. Ia menyemburatkan pesona kesegaran warna merah muda bergaya dengan batang dan tangkainya yang merah tua.
*****
Menjelang Jam 10 Malam

Ini adalah kamarku yang berbentuk persegi. Daun pintunya berwarna biru. Begitu pula temboknya, putih kebiru-biruan. Namun sedikit berantakan dengan sebagian buku-buku dan majalah yang sempat kubaca malam ini. Sisanya tersusun rapi di atas lemari.
Saat ini pukul 21.45 WITA, selasa malam dan aku sendiri memakai t-shirt belang hijau dikombinasikan dengan warna hitam bergaris horizontal.
Tiba-tiba badanku menggigil kedinginan dan bergetar. Dingin terasa meraba tulang. Segera kuambil sarung karena tak kutemukan selimut. Aduhai, apakah gerangan? Terakhir aku mengalami hal yang sama sekitar dua tahun yang lalu dan menyebabkanku harus terbaring sakit.
Pula, beberapa menit yang lalu, bagian mukaku terhantam kusen tembok yang menyebabkan kulit bagian atas jidat sebelah kanan robek sekitar 2 cm. Tentu saja berdarah kawan. Aku segera membersihkan dengan Rivanol, kemudian mengobati robekannya dengan Betadine.qadarullah wa masya’a fa’al.
Saat berbaring setelah minum dua butir habbatussauda’ tak terasa rasa kantuk mengalahkan rasa sadarku segingga daun mata perlahan menutup. Akupun tertidur.
Pukul 00.25 WITA Rabu Dini Hari

Akupun terbangun. Ternyata suhu badanku meninggi. Ragaku melemas. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Kuputuskan secara paksa (karena badanku lemah) untuk bergerak membuka laptop dan mengedit tulisanku yang kujudulkan “Ada Cinta Menggerakkan Langkah.”
Berikut kuhadiahkan untukmu kutipannya..
“…..Aku tengah berada dalam sebuah ruangan bersama seorang pemuda dan lelaki lainnya. Dia adalah pemuda cacat yang berjalan dengan lutut dengan tangannya menyentuh lantai saat berjalan. Tepatnya merangkak namun bukan tiarap sambil merayap. Ia begitu asyik mendengar dan begitu syahdu menikmati apa yang dilakukannya. Aku pula melihat lelaki tua dengan mata yang tak sempurna terbuka. Beliau berjalan begitu pelan sambil meraba tembok bagian dalam ruangan agar bisa mendekati sumber suara yang didengarnya.
Kawan yang kucinta,
tahukah engkau di ruangan mana kami berada?? Tahukah engkau apa yang pemuda dan bapak tua lakukan?? Bisakah engkau menduga atau menebak menjawabnya???
Duh, aku sendiri merasa terpukul dan begitu malu menjawabnya. Namun harus kukatakan pada kalian. Kami sedang berada di rumah Allah, masjid, dan mengikuti majelis ilmu. Di dalamnya dibacakan kalam-Nya dan hadist-hadist Rasulullah shallallahu a’alaihi wasallam serta perkataan para ulama salaf.
Subhanallah.
Lihatlah kawan, pesona cinta terhadap ilmu telah menggerakkan langkah pemuda cacat dan bapak tua. Pesona cinta untuk menghilangkan kebodohan telah meringankan langkah keduanya seolah-olah tak merasa cacat. Bagaimana tidak??
Mereka merasakan syahdunya jiwa di majelis ilmu yang didalamnya terkepak sayap para malaikat. Mereka merasakan nikmatnya menambah keimanan. Mereka mendapat keutamaan layaknya keutamaan bulan dibanding bintang. Aduhai, Hancurlah karang-karang kebodohan.
Lantas bagaimana dengan kita yang sedang asyik dengan gemerlapnya dunia? Dengan nyanyian-nyanyian yang menodai jiwa?? Ataukah kita sedang berleha-leha menunggu kejayaan islam??
Wahai engkau yang merindukan kejayaan islam, burulah ilmu syar’i di pelataran taman-taman surga..
***
Pada saat berada di pintu masjid dan hendak keluar (setelah kajian dan sholat isya’), aku dihadang tiga bidadari mungil nan cantik. Ketiganya benar-benar membuatku takjub. Begitu anggun nan mempesona kulihat dengan pemakaian jilbabnya yang sempurna. Kira-kira ketiganya berumur kurang dari sepuluh tahun. Wajahnya mereka amat ceria. Subhanallah. Mataku sedikit berkaca dengan pemandangan ini.
Aduhai, siapakah orang tuanya yang mampu menjadikan permata hatinya ini taat pada perintah Allah dan Rasul-Nya?? Siapakah orang tuanya yang mampu mengajak bidadari kecilnya ini menikmati manisnya madu ilmu??
Mereka memanggilku abiiii. Duh, ternyata ayahnya di belakangku.
Wahai penaku, saatnya engkau menari dengan lincah nan penuh menawan. Peraslah tintamu sehingga tergores di kanvas ini lalu getarkanlah jiwa-jiwa. Sampaikan salam sedihku kepada para wanita yang masih mempertontonkan auratnya.
Tidakkah mereka takut akan siksa Allah dalam neraka yang nyalanya berkobar hitam pekat?? Tidakkah mereka takut dengan sungai berair api?? Maukah mereka minum dengan lezatnya minuman dari nanah?? Tidakkah mereka iri dengan bidadari kecilku tadi?? Tidakkah mereka takut ikut menanggung dosa orang-orang yang memandangnya?? Kenapa mereka begitu rela mempertontonkan lekuk tubunhya atau cantik wajahnya?? Apa yang mereka inginkan, wahai penaku??
Tidakkah mereka ingin merasakan segarnya mata air tasnim di surga?? Atau bermain di padang rumput di bawah Arsy Allah?? Atau menikmati merdunya nyayian-nyanyian burung yang bertenggar di dahan pohon surga?? Inginkah mereka menyusuri sungai-sungai yang kerikil dan batunya dari intan dan permata??
Wahai penaku. Sekali lagi sampaikan salamku untuk mereka agar mereka menutup anggun tubuh mereka sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya….”

Kawan, kuharap kutipan tulisanku diatas bisa bermanfaat.
Tubuhku kembali melemah setelah selama dua jam lebih di depan laptop. Mataku baru bisa terlelap setelah mendekati jam tiga dini hari..
Rabu Siang_ Pukul 12.25 WITA

Kuakui bahwa ragaku makin melemah dengan suhu meninggi. Detak jantungku bergerak lebih cepat. Mataku memerah dengan kelopak bawahnya mulai sayu menghitam. Aku teringat sentuhan lembut tangan bunda yang kini berada jauh di mata. (Sentuhan lembut ini begitu bermanfaat bagi anak-anak untuk menstimulus perasaannya sehingga sang anak menjadi remaja penuh cinta).
Terdengar suara adzan berkumandang. Terasa lembut membisiki daun telingaku. Lalu membahanakan jiwa dan begitu lembut mencandai organ-organ tubuh bagian dalam. Namun apalah daya. Aku hanya bisa berbaring lemas disini.
Namun begitu aku masih terhibur dengan hadist-hadist bahwa sakit ataupun musibah lainnya akan mengikis dosa-dosa. Aku harap sakit yang kualami tergantikan dengan cucuran mata air kebaikan baik di dunia maupun akhirat kelak. Amiin ya mustajiba sa’ilin
Kawan, temanilah aku disini walau hanya dengan do’amu..
Pukul 16.35 WITA_Sore

Baru saja rasa sadar mendominasi alam pikiranku sehingga secara perlahan daun mataku terbuka. Beberapa detik kemudian kupastikan aku telah bangun dari tidurku. Kuduga tidurku adalah respon otot-ototku yang harus beristirahat ditambah reaksi empat pil dengan tiga jenis berbeda yang harus kuminum sebelumnya.
Kukabarkan padamu kawan bahwa keadaanku saat ini sedikit membaik apalagi setelah tadi kutawarkan rekan-rekan menemaniku yang berbaring ini dengan do’a-do’anya.
Terlihat dari jendela berkusen biru, ternyata di luar sana hujan deras tengah mengguyur hebat kotaku. Dentuman suaranya bagaikan nyanyian yang tak bermelodi. Allahumma shoyyiban nafi’an. Tak kalah pula langit bergemuruh dengan gagahnya. Butiran-butiran bening (bak kristal) akibat percikan air menempel pada permukaan kaca bagian luar jendela. Namun butiran bening tersebut tercampuri dengan debu karena harus menyusuri kaca lalu menetes berjatuhan ke tanah. Hal ini karena pengaruh gravitasi bumi dan sifat zat cair itu sendiri.
Masih kusisir pandangan mataku ke luar. Ada sesuatu yang indah dipandang dan berhasil kupotret lalu kurekam dengan penaku ini. Pucuk daun tengah memekarkan bunganya nan menawan. Ia menyemburatkan pesona kesegaran warna merah muda bergaya dengan batang dan tangkainya yang merah tua. Begitu pula lembaran daunnya tipis merekah.
Melalui tuturku ini kembali kuucapkan “ syukron jadzilan wa jazakumullaahu khairan” atas tawaran persahabatannya di dunia maya ini. Dan harus jujur kuakui bahwa hanya do’a dan percikan tinta-tinta melalui tarian penaku yang bisa kupersembahkan untuk anda semua.
Akhirnya kutitip salam santun penuh kehangatan cinta di atas manhaj salaf,
Fachrian Almer Akira
(Yani Fachriansyah Muhammad As-samawiy)
Catatan penulis:

Tulisanku ini bisa dikatakan sebuah cerpen namun bukanlah cerpen yang bersifat fiktif karena benar-benar kualami sendiri. Namun begitu, lebih tepat disebut sebagai penggalan kehidupan yang kulalui. Aku harap dengannya bisa menapaki tahap-tahap kehidupan selanjutnya.
Keadaanku saat siang dan sore pada waktu yang tercantumkan dalam tulisanku ini sebelumnya kubagikan di wall post Facebook dengan sedikit pengubahan redaksi dan disambut dengan respon baik. Akupun mendapat do’a dari rekan-rekan facebookers. Terima kasih untuk anda semua.
Aku juga minta ma’af tak bisa mencantumkan kutipan hadist yang berhubungan dengan tulisan ini padahal sudah kusiapkan sebelumnya dalam kitab-kitab yang ada. Mengenai ada atau tidaknya manfaat tulisan ini atau enak terbaca atau tidak maka aku serahkan kepada anda sebagai pembaca.
Mataram, Lombok.. Kamis, 01.12 WITA dini hari..saat sakit masih mencanda ragaku. Namun begitu, tak kubiarkan cintaku (pada anda semua) hilang rasa-)).
Subhanaka allahumma wa bihamdika, asyhadu alla ila hailla anta, astaghfiruka wa atubu ‘ilaika.