Aku memulai tulisan ini, atas nama cinta. Cinta kepadamu, yang membuatku ingin menuliskannya, menjelaskannya, mudah-mudahan kau mengerti.

Seiring berlalunya waktu, dalam lingkup pergaulan keluarga, kerabat, sahabat, perbedaan pendapat dan sudut pandang sering kali berbenturan yang terkadang melahirkan konflik. Konflik yang tidak semestinya ada, jika kita selalu mengembalikan setiap perselisihan kepada pedoman kita, Al-Qur’an, dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana yang dipahami oleh para sahabat, generasi awal yang mendapat pengajaran langsung dari manusia yang mulia, suri tauladan terbaik, Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Pada saat-saat seperti itu, aku terkadang mengatakan sesuatu yang tidak kau sukai. Mungkin karena kau tidak memahami, atau caraku yang keliru dan tidak memahami kondisimu. Dan mungkin terkesan memaksakan kehendak. Tetapi ketahuilah itu karena aku mencintaimu, karenanya aku berusaha menarik tanganmu, manahanmu, agar tidak terlena pada sesuatu yang dapat menjerumuskanmu dan mungkin akan kau sesali nanti.

Setelah mengalami begitu banyak pengalaman hidup, aku memahami satu hal. Persabahatan yang sangat berarti, bukan pada saat berbagi sedih dan bahagia, bukan hanya saling mendukung di saat susah dan senang. Akan tetapi seberapa perduli engkau, ketika sahabatmu melakukan kesalahan, dan dengan tegas mengatakan kepadanya, “berhentilah, karena kau telah keliru melangkah,” dan bukannya membelanya dan membiarkannya berlarut-larut dalam kesalahan sedangkan engkau mengetahuinya.

Cinta yang sebenarnya bukanlah kasih sayang menggebu, bunga dan puisi-puisi manis seperti yang dikisahkan pada roman-roman picisan. Cinta, menggerakkan seseorang untuk mencegah orang yang dicintainya untuk jatuh pada kesalahan yang dapat membinasakan dirinya. Cinta menggerakkan seseorang untuk terus mengarahkan orang yang dicintai, agar senantiasa berada dalam kebaikan – seperti seorang ibu yang terpaksa harus menghukum anaknya agar jera – meski untuk itu dia harus menerima kepahitan, karena kebenaran tidak selamanya dipahami sebagai sebuah kebaikan, ketika seseorang sedang terlena.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Seorang mukmin itu cermin bagi saudaranya, dan seorang mukmin adalah saudara bagi seorang mukmin lainnya, Membantu memperbaikinya dari kesalahannya dan memperhatikannya dari belakang.” (HR Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Ash-Shahihah [6/923])

Terkadang aku harus menaris nafas dalam-dalam, agar sesak tidak lagi terlalu menghimpit, karena ada saat-saat di mana niat baik itu, usaha untuk menunjukkan kebaikan dan menjelaskan kesalahan, diartikan sebagai wujud kebencian, cemburu, hasad, dikomentari dengan sinis, seolah aku tidak suka melihatmu bersenang-senang dengan caramu meski sesaat. Sesuatu yang membuatku harus menghembuskan lagi nafas itu sekuat-kuatnya, agar tidak tertinggal perih yang membuatku berhenti mencintaimu. Aku ingin aku tak berhenti, karena aku berharap Allah akan ridha pada cinta karena Dia, dan merahmatiku dan dirimu dengan naungan di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, seperti yang dikatakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

“Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah), seseorang yang hatinya bergantung kepada mesjid (selalu melakukan shalat jamaah di dalamnya), dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk berzina), tapi ia mengatakan: Aku takut kepada Allah, seseorang yang memberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kanannya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kirinya dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata.” (Mutafaq alaihi)

Adalah tabiat manusia, yang selalu berkeluh kesah. Juga adalah tabiat manusia, pada satu keadaan, tak ingin terlihat salah sepenuhnya karena itu akan membuatnya terkesan rapuh, dan karenanya selalu berusaha mencari sebuah penjelasan, alasan, alibi, agar kesalahannya dapat diabaikan, dilupakan. Dan juga menjadi tabiat manusia, terkadang tidak rela menerima sebuah peringatan… nasihat, dari orang lain, terlebih jika yang mengatakannya adalah seorang yang menurutnya mempunyai ilmu lebih rendah, lebih muda usianya, dan lebih rendah kedudukannya. Hanya saja satu hal yang tidak pernah boleh diabaikan. Kebenaran adalah kebenaran, dari manapun dan dari siapapun datangnya. Seseorang yang lebih muda, lebih rendah kedudukannya tidak membatalkan kebenaran. Sesuatu tidak menjadi benar karena dikatakan oleh seseorang atau sekelompok orang tertentu. Akan tetapi kebenaran adalah sesuatu yang didukung dengan ilmu, dengan dalil.

Jika aku menyampaikan sesuatu padamu, bukan berarti aku lebih baik darimu. Tidak! Akan tetapi aku ingin, berharap, suatu saat nanti bila aku keliru melangkah, ada seseorang yang perduli mengawasiku, memanggilku, menarik tanganku, dan mengajakku untuk kembali kepada jalan yang lurus, karena dia mencintai untukku kebaikan, sebagaimana dia mencintai kebaikan untuk dirinya. Karena aku, dan dia, sama-sama menginginkan keiman sejati, sebagaimana sabda kekasih yang mulia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

“Tidak beriman salah seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari dari Anas radhiallahu anhu)

Sungguh, aku ingin menjadi seseorang yang benar-benar memiliki keimanan di dalam hati. Dan aku yakin kau pun begitu. Aku mencintai kebaikan untuk diriku, dan menginginkan kebaikan yang sama pada dirimu pula. Aku menginginkan keselamatan dari murka Allah untuk diriku, dan mencintai untukmu keselamtan yang sama. Aku mencintai surga, sebagaimana aku juga menginginkan surga bagimu. Semoga dengan begitu kita bisa bersama-sama saling mengingatkan, tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, merentas jalan untuk meraihnya. Karena untuk berjalan seorang diri itu teramat sulit, bahkan bisa jadi mustahil. Sedangkan musuh kita, syaithan dari golongan jin dan manusia, bersatu padu, memanggil-manggil dengan pesona kelembutan dan daya tariknya, setiap saaat berusaha mengalihkan jalan kita pada kebinasasaan. Sungguh, kau… dan aku. membutuhkan orang lain untuk selalu saling nasihat-menasihati dalam kebaikan dan taqwa dalam meniti jalan ini.

Karenanya jika ada di antara ucapan atau cara bersikapku yang tidak berkenan bagimu, tolong maafkan, dan yakinlah, sesungguhnya aku melakukannya atas nama cinta, kecintaan kepada saudaraku seiman, dalam islam dan sunnah, agar selalu bersama-sama dalam kebaikan. Karenanya sungguh aku ingin mengatakan ini:

إنيى أحبك في الله
“Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah”.

Dan membalas orang-orang yang mencitaiku karena Allah dengan doa:

أَحَبَّكَ الَّذِيْ أَحْبَبْتَنِي لَهُ
“Semoga Allah mencintai kamu yang cinta kepadaku karenaNya.”
HR Abu Dawud, 4/133, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).

http://www.khayla.net/2009/10/atas-nama-cinta.html