Mengapa masih ada saja orang yang memiliki rasa khawatir yang berlebihan atas apa yang belum terjadi, bahwa keburukan akan menimpa dirinya, sedangkan Allah Ta’ala telah berfirman:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang TELAH DITETAPKAN oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (At-Taubah: 51)

Tidaklah seseorang akan memiliki rasa khawatir yang berlebihan atas segala sersuatu yang belum terjadi apabila dia memahami dan mengimani adanya Qadha dan Qadar dari Allah Ta’ala dengan benar.

Definisi Qadha’ dan Qadar serta kaitan di antara keduanya.

Pertama: Qadar

Qadar, menurut bahasa yaitu: Masdar (asal kata) dari qadara-yaqdaru-qadaran, dan adakalanya huruf daal-nya disukunkan (qadran). [Lihat An-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits, Ibnu Atsir (IV/22).

Ibnu Faris berkata, “Qadara; qaaf, daal dan raa’ adalah ash-shahiih yang menunjukkan akhir/puncak segala sesuatu. Maka qadar adalah akhir/puncak segala sesuatu. Dinyatakan: Qadruhu kadza, yaitu akhirnya. Demikian pula al-qaar, qadartusy sya’i aqdiruhu, dan aqduruhu dari at-taqdiir.” [Lihat Mu’jam Maqaayiisil Lughah (V/62) dan an-Nihaayah (IV/23)]

Qadar (yang diberi harakat pada huruf daal-nya) ialah: Qadha (kepastian) dan hukum, yaitu apa-apa yang telah ditentukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari qadha (kepastian) dan hukum-hukum dalam berbagai perkara.

Takdir adalah: Merenungkan dan memikirkan untuk menyamakan sesuatu. Qadar itu sama dengan Qadr, semuanya bentuk jama’nya adalah Aqdaar. [Lihat Lisaanul ‘Arab (V/72) dan al-Qaamuus al-Muhiith, hjal. 591, bab qaaf-daal-raa’]

Qadar menurut istilah ialah: Ketentuan Allah yang berlaku bagi semua makhluk, sesuai dengan ilmu Allah yang telah terdahulu dan dikehendaki oleh hikmah-Nya. [Rasaa-il fil ‘Aqidah, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, hal. 37]

Atau; Sesuatu yang telah diketahui sebelumnya dan telah tertuliskan dari apa-apa yang terjadi hingga akhir masa. Dan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan ketentuan para makhluk dan hal-hal yang akan terjadi, sebelum diciptakan sejak zaman azali. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mengetahui, bahwa semua itu akan terjadi pada waktu-waktu tertentu sesuai dengan pengetahuan-Nya dan dengan sifat-sifat tertentu pula, maka hal itu pun terjadi sesuai dengan apa yang telah ditentukan-Nya. [Lawaami’ul Anwaar al-Bahiyyah, as-Safarani (I/348)]

Atau: Ilmu Allah, catatan (takdir-Nya) terhadap segala sesuatu, kehendak-Nya dan penciptaan-Nya terhadap segala sesuatu tersebut. [Al-Iimaan bil Qadhaa’ wal Qadar, Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd]

Kedua: Qadha’

Qadha’, menurut bahasa ialah: Hukum, ciptaan, kepastian dan penjelasan.

Asal(makna)nya adalah: Memutuskan, memisahkan, menentukan sesuatu, mengukuhkannya, menjalankannya dan menyelesaikannya. Maknanya adalah mencipta. [Lihat Ta-wiil Musykilil Qur’aan, Ibnu Qutaibag, hal. 441-442. Lihat pula Lisaanul ‘Arab (XV/186), al-Qaamuus, hal. 1708 bab qadhaa’, dan lihat Maqaayiisil Lughah (V/99)]

Kaitan antara Qadha’ dan Qadar

1. Dikatakan, bahwa yang dimaksud dengan qadar ialah takdir, dan yang dimaksud dengan qadha’ ialah penciptaan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala;


فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ

“Maka Dia menjadikannya tujuh langit…” (Al-Fushshilat: 12)

Yakni, menciptakan semua itu.

Qadha’ dan qadar adalah dua perkara yang beriringan, salah satunya tidak terpisah dari yang lainnya, karena salah satunya berkedudukan sebagai pondasi, yaitu qadar, dan yang lainnya berkedudukan sebagai bangunannya, yaitu qadha’. Barang siapa bermaksud untuk memisahkan di antara keduanya, maka dia bermaksud menghancurkan dan merobohkan bangunan tersebut. [Lisaanul ‘Arab (XV/186) dan an-Nihaayah (IV/78)]

2. Dikatakan pula sebaliknya, bahwa qadha’ ialah ilmu Allah yang terdahulu, yang dengannya Allah menetapkan sejak azali. Sedangkan qadar ialah terjadinya penciptaan sesuai timbangan perkara yang telah ditentukan sebelumnya. [Al-Qadhaa’ wal Qadar, Syaikh Dr. ‘Umar al-‘Asyqar, hal. 27]

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata, “Mereka, yakni para ulama mengatakan, ‘Qadha’ adalah ketentuan yang bersifat umum dan global sejak zaman azali, sedangkan qadar adalah bagian-bagian dan perincian-perincian dari ketentuan tersebut.'” [Fat-hul Baari (XI/486)]

3. Dikatakan, jika keduanya berhimpun, maka keduanya berbeda, di mana masing-masing dari keduanya mempunyai pengertian sebagaimana yang telah diutarakan dalam dua pendapat sebelumnya. Jika keduanya terpisah, maka keduanya berhimpun, di mana jika salah satu dari keduanya disebutkan sendirian maka yang lainnya masuk di dalam (pengertian)nya. [Lihat ad-Durarus Sunniyyah (I/512/513)]

Buah keimanan kepada Qadha’ dan Qadar.

Iman kepada qadha’ dan qadar menghasilkan buah yang besar, akhlak yang indah, dn ibadah yang beraneka ragam, yang pengaruhnya kembali kepada individu dan komunitas masyarakat, baik di dunia maupun di akhirat. Di antara buah-buah tersebut ialah sebagai berikut:

1. Menunaikan peribadatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Iman kepada qadar merupakan salah satu peribadatan kita kepada Allah, sedangkan kesempurnaan makhluk itu adalah terletak pada realisasi peribadatannya kepada Rabb-nya. Setiap kali bertambah realisasi peribadatannya, maka bertambah pula kesempurnaannya, dan derajatnya pun menjadi semakin tinggi, sehingga segala sesuatu yang menimpanya dari perkara yang tidak disukainya pun menjadi kebaikan baginya. Dan dari keimanan tersebut, menghasilkan baginya berbagai peribadatan yang sangat banyak, yang sebagian di antaranya akan disebutkan.

2. Terbebas dari syirik.

Kaum Majusi menyangka, bahwa cahaya adalah pencipta kebajikan sedangkan kegelapan adalah pencipta keburukan. Dan Qadariyyah pun mengatakan, “Allah tidak menciptakan perbuatan para hamba, tetapi hamba itulah yang menciptakan berbagai perbuatan mereka.” Maka mereka telah menetapkan pencipta-pencipta (yang lain) bersama Allah Azza wa Jalla.

Kesesatan ini adalah syirik. Padahal iman kepada qadar dengan cara yang benar adalah dengan mentauhidkan Allah Azza wa Jalla.

Kemudian orang yang beriman kepada qadar mengetahui, bahwa semua makhluk berada dalam kekuasaan Allah, diatur dengan qadar (ketentuan)-Nya. Semuanya tidak memiliki suatu kekuasaan pun, mereka tidak memiliki kekuasaan untuk dirinya, terlebih terhadap selainnya, baik kemanfaatan maupun kemudharatan.

Demikian pula dia pun mengetahui secara yakin, bahwa segala urusan itu adalah berada di tangan Allah, Dia memberi kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan mencegah dari siapa yang dikehendaki-Nya, tidak ada yang dapat menolak ketentuan dan ketetapan-Nya. Maka hal ini akan mendorongnya untuk mengesakan Allah dalam beribadah, semata-mata hanya untuk-Nya, tidak kepada seain-Nya. Maka ia tidak mendekatkan diri kepada selain Allah, dan tidak pula mengusap debu-debu kuburan serta makam orang-orang shalih.

3. Memperoleh hidayah dan tambahan keimanan.

Orang yang beriman kepada qadar dengan cara yang benar berarti telah merealisasikan tauhid kepada-Nya, menambah keimanannya, dan berjalan di atas petunjuk dari Rabb-nya. Sebab, beriman kepada qadar TERMASUK MENDAPATKAN PETUNJUK. Allah Azza wa Jalla berfirman:


وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” (Muhammad; 17)

Dia juga berfirman;

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan MEMBERI PETUNJUK KEPADA HATINYA. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghaabun: 11)

‘Alqamah radhiyallahu ‘anhu berkata tentang ayat ini:

“Yaitu, mengenai orang yang tertimpa musibah, lalu dia tahu bahwa hal itu berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia pun PASRAH dan RIDHA. [Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi (VIII/283)]

4. Ikhlas.

Iman kepada qadar akan membawa pelakunya kepada keikhlasan, sehingga motivasinya dalam segala perbuatannya ialah melaksanakan perintah Allah. Orang yang beriman kepada qadar mengetahui, bahwa perintah adalah perintah Allah dan kekuasaan adalah kekuasaan-Nya, apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya TIDAK AKAN TERJADI, serta tidak ada yang dapat menolak karunia dan ketetapan-Nya. Semua itu mendorongnya kepada keikhlasan beramal karena Allah dan membersihkannya dari kotoran yang menodainya. Karena yang membawa ketidakikhlasan atau kekurang-ikhlasan adalah PAMRIH KEPADA MANUSIA (riya’), MENCARI PUJIAN atau SANJUNGAN DI HATI MEREKA, atau LARI DARI CELAAN MEREKA, mencari harta mereka atau bantuan dan cinta mereka, atau selainnya dari noda-noda dan penyakit-penyakit yang dihimpun dalam menginginkan sesuatu selain Allah dalam beramal. (Lihat Madaarijus Salikiin, Ibnul Qayyim (II/93)]

Jika seorang hamba percaya, bahwa perkara-perkara ini tidak dapat diraih kecuali dengan takdir Allah Azza wa Jalla, dan bahwa manusia tidak memiliki kekuasaan sedikit pun, baik pada diri mereka maupun pada selain mereka, maka dia TIDAK AKAN PEDULI DENGAN MANUSIA dan tidak mencari keridhaan mereka dengan menukarnya dengan mendapatkan murka Allah. Sehingga hal itu akan mendorongnya untuk lebih mendahulukan Dzat Yang Maha Benar daripada makhluk, kepada keikhlasan dan dan memurnikan ibadah, serta jauh dari segala riya’ dan kemusyrikan.

Dari sinilah akan diraih keutamaan ikhlas, yang merupakan keutamaan yang paling mulia. Karena ikhlas dapat meninggikan kedudukan amal, sehingga menjadi tangga-tangga untuk mencapai keberuntungan. Inilah yang membawa manusia untuk melanjutkan amal kebajikan, meniadakan tekad seseorang menjadi kuat, dan mengikat hatinya. Sehingga ia pun melangkah hingga mencapai tujuannya.

5. Tawakkal.

Tawakkal kepada Allah adalah inti ibadah, sedangkan tawakkal tidaklah sah dan lurus kecuali bagi siapa yang beriman kepada qadar sesuai dengan cara yang benar.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Syaikh kami (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) rahimahullah mengatakan, ‘Karena itu, tawakkal tidak sah dan tidak terbayangkan berasal dari para filosof, tidak juga dari Qadariyyah yang membantah dan mengatakan bahwa dalam kekuasaan-Nya ada sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya tidak juga dari Jahmiyyah yang menafikan sifat-sifat Rabb Azza wa Jalla, tidak pula tawakkal akan lurus kecuali dari kaum yang menetapkan sifat-sifat Allah (Ahlus Sunnah wal Jama’ah).” [Madaarijus Saalikiin (II/218)]

Yang dimaksud dengan tawakkal menurut syari’at adalah, mengarahkan hati kepada Allah pada saat beramal, meminta pertolongan dan bersandar kepada-Nya semata. Itulah rahasia dan hakikat tawakkal.

Syari’at memerintahkan kepada orang yang beramal agar hatinya berhimpun di atas pelita tawakkal dan penyerahan diri. Hal yang dapat merealisasikan tawakkal ialah, melakukan usaha-usaha yang diperintahkan. Barang siapa yang menafikannya, maka tidak sah tawakkalnya.

Jika hamba bertawakkal kepada Rabb-nya, berserah diri kepada-Nya, dan menyerahkan urusan kepada-Nya, maka Allah akan memberikan kepadanya kekuatan, tekad, kesabaran, dan menjauhkannya dari berbagai bencana yang merupakan halangan ikhtiar hamba bagi dirinya, serta memperlihatkan kepadanya berbagai kebaikan akibat ikhtiarnya untuknya, yang tidak mungkin dia sampai kepadanya walaupun kepada sebagiannya, apabila (hanya bersandarkan) kepada ikhtiarnya semata.

Ini semua akan menenangkannya dari pemikiran-pemikiran yang melelahkan dalam berbagai jenis ikhtiar, dan mengosongkan hatinya dari pertimbanan-pertimbangan yang sewaktu-waktu dia tempuh dan sewaktu-waktu dia tinggalkan.

6. Takut kepada Allah

Orang yang beriman kepada qadar akan anda jumpai senantiasa takut kepada Allah dan su-ul khaatimah (akhir kematian yang buruk), sebab dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya dan TIDAK MERASA AMAN dari makar Allah.

Dari sini, dia akan MERASA AMALNYA SEDIKIT dan TIDAK TERPEDAYA dengan amalnya, apa pun yang telah dilakukannya. Karena hati manusia itu berada di antara dua jari dari jari-jari ar-Rahman, Dia membolak-balikkannya bagaimana saja Ia kehendaki, dan pengetahuan tentang AKHIR dari amalnya adalah berada di sisi Allah Azza wa Jalla.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Demi Allah, sesungguhnya seorang dari kalian atau seseorang beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya sedepa atau sehasta lagi, tetapi telah berlaku ketetapan sebelumnya atasnya, lalu dia beramal dengan amalan ahli surga, sehingga dia pun masuk ke dalam surga. Dan seseorang benar-benar beramal dengan amalan ahli surga sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya sehasta atau dua hasta lagi, tetapi TELAH BERLAKU KETETAPAN ATASNYA, lalu dia beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga dia pun MASUK NERAKA.” [HR. Bukhari (no. 6594)]

Beliau juga bersabda:

“Seorang hamba benar-benar beramal dengan amalan ahli neraka padahal sesungguhnya dia termasuk ahli surga, dan seseorang benar-benar beramal dengan amalan ahli surga PADAHAL SESUNGGUHNYA DIA TERMASUK AHLI NERAKA, sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada akhir penutupnya.” [HR. Bukhari (no. 6607)

7. Kuat harapan dan berprasangka baik kepada Allah.

Orang yang beriman kepada qadar akan berprasangka baik kepada Allah dan sangat berharap kepada-Nya, karena dia mengetahui bahwa Allah tidak menetapkan suatu ketentuan pun melainkan di dalamnya berisikan kesempurnaan keadilan, kasih sayang, dan kebijaksanaan.

Ia tidak menghujat Rabb-nya mengenai berbagai qadha’ dan qadar yang ditentukan atasnya, dan hal itu mengharuskannya untuk konsisten di sisi-Nya dan RIDHA ATAS APA YANG DIPILIHKAN RABB-NYA UNTUKNYA, sebagaimana mengharuskan untuknya menunggu kelapangan. Hal itu dapat meringankan beban yang berat, terutama bila disertai harapan yang kuat atau yakin dengan adanya kelapangan. Ia mencium dalam bencana itu udara kelapangan dan jalan keluar, baik berupa kebaikan yang tersembunyi ataupun kelapangan yang disegerakan. [Madaarijus Saalikiin (II/166-199)]

8. Kesabaran dan ketabahan.

Iman kepada qadar membuahkan bagi pelakunya ibadah (dalam bentuk) kesabaran terhadap takdir yang menyakitkan. Kesabaran merupakan sifat yang indah dan terpuji, yang mempunyai faedah-faedah yang banyak, berbagai manfaat yang mulia, berbagai akibat yang baik, dan berbagai dampak yang terpuji. Setiap manusia harus memiliki kesabaran ATAS SEBAGIAN PERKARA YANG TIDAK DISUKAINYA, baik dengan kesadaran maupun terpaksa.

Orang yang mulia akan bersabar dengan kesadarannya, karena dia mengetahui akibat baik dari kesabaran. Dia akan memuji karena adanya musibah itu, dan mencela kegelisahan. Seandainya pun dia tidak bersabar, maka kesedihan itu tidak kembali kepadanya, dan tidak melepaskan diri darinya dengan kebencian. Barang siapa yang tidak bersabar dengan kesabaran orang-orang yang mulia, maka dia tidak ubahnya dengan BINATANG TERNAK. [‘Iddatush Shaabiriin, Ibnul Qayyim, hal. 124 dan Tasliyyah Ahlil Mashaaib, al-Munbaji, hal. 135-151].

Amirul Mukminin, ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Kami mendapati, bahwa sebaik-baik kehidupan kami (yang kami jalani) adalah dengan kesabaran.” [‘Iddatush Shaabiriin, hal. 124]

Amirul Mukminin, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata:
“Kesabaran adalah tunggangan yang tidak pernah terjatuh.” [Ibid]

Al-Hasan rahimahullah berkata:
“Kesabaran adalah salah satu dari perbendaharaan kebaikan, yang TIDAK DIBERIKAN ALLAH, kecuali kepada hamba yang mulia di sisi-Nya.” [Ibid, hal. 124]

Karenanya, anda melihat orang yang beriman kepada qadar memiliki kesabaran yang membaja, tabah terhadap beban berat, dan kuat menanggung penderitaan.

Berbeda dengan orang yang lemah keimanannya kepada qadar, yang tidak kuat untuk bersabar dan tidak bersabar terhadap suatu masalah yang paling kecil sekali pun yang dihadapinya, karena kelemahan imannya, kelembekan jiwanya, dan kecemasannya yang besar terhadap sesuatu yang kecil. Maka ketika dia tertimpa sesuatu yang remeh, anda melihatnya sempit dadanya, sedih hatinya, murung wajahnya, tertunduk penglihatannya, kesedihan menghimpit dadanya, lalu semua hal itu membuatnya tidak bisa tidur dan memeluhkan keningnya.

Tetapi musibah itu -bahkan yang lebih besar darinya- sekiranya menimpa orang yang lebih kuat keimanan dan ketabahannya, maka dia tidak akan menghiraukannya, hal itu tidak mengusik jiwanya, kelopak matanya masih bisa terpejam, hatinya ridha, dan dirinya pun tetap tenang.

9. Ridha.

Orang yang beriman kepada qadar, keimanannya tersebut dapat meninggikannya, sehingga menghantarkannya kepada tingkatan ridha. Barang siapa yang ridha kepada Allah, maka Allah ridha kepadanya, bahkan ridha hamba kepada Allah adalah hasil dari ridha Allah kepadanya. Jadi, ia diliputi dengan dua jenis keridhaan-Nya kepada hamba-Nya: keridhaan sebelumnya, yang mengharuskan ia ridha kepada-Nya dan keridhaan sesudahnya yang merupakan buah ridah kepada-Nya.

Karena itu, ridha adalah pintu Allah yang terbesar, surga dunia, peristirahatan para ahli ibadah dan pelipur orang-orang yang rindu. [Lihat Madaarijus Saalikiin (II/172)].

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Barang siapa yang memenuhi hatinya dengan ridha kepada takdir, maka Allah memenuhi dadanya dengan kecukupan, rasa aman dan qana’ah, serta mengosongkan hatinya untuk mencintai-Nya, kembali dan bertawakkal kepada-Nya.

Barang siapa yang tidak memiliki keridhaan, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan hal yang sebaliknya, dan lalai terhadap perkara yang di dalamnya terdapat kebahagiaan dan keberuntungannya. [Madaarijus Saalikiin (II/202)]

Ditanyakan kepada Yahya bin Mu’adz, “Kapankah (seorang) hamba akan mencapai kedudukan ridha?” Ia menjawab, “Jika ia memposisikan dirinya di atas empat landasan dalam interaksinya dengan Rabb-nya, sehingga ia berucap, ‘Jika Engkau memberikan kepadaku maka aku menerimanya, jika Engkau menghalangiku maka aku tetap ridha, jika Engkau meninggalkanku maka aku btetap beribadah kepada-Mu, dan jika Engkau memerintahku maka aku memenuhi panggilanmu.” [Madaarijus Saalikiin (II/172)]

Sebagian mereka mengatakan, “Ridhalah kepada Allah dalam segala apa yang Dia perbuat terhadapmu. Sebab, Dia tidak menghalangimu melainkan untuk memberimu, tidak mengujimu melainkan untuk memberi keselamatan kepadamu, tidak menjadikanmu sakit melainkan untuk memberi kesembuhan kepadamu, dan tidak mematikanmu melainkan untuk menghidupkanmu. Oleh karena itu, JANGANLAH ENGKAU MENINGGALKAN KERIDHAAN KEPADA-NYA SEKEJAP MATA PUN, SEHINGGA ENGKAU PUN JATUH DALAM PANDANGAN-NYA.” [Madaarijus Saalikiin (II/216)]

Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi berkata:

Jika malapetaka sangat keras, maka ringankanlah dengan ridha kepada Allah…
maka beruntunglah orang yang ridha lagi merasa diawasi Allah…
Betapa banyak kenikmatan yang diiringi dengan ujian kepada manusia.
ia tersembunyi, dan ujian itu (sebenarnya adalah) anugrah.

[Badrul Akbaad ‘inda Faqdil Aulaad, Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi, hal. 37]

Meskipun demikian, seorang hamba tidak dapat keluar dari apa yang telah ditentukan Allah atasnya. Seandainya dia ridha dengan pilihan Allah, maka takdir tetap menimpanya sedangkan ia BERADA DALAM KEADAAN TERPUJI, dihargai dan dilindungi. Jika dia tidak ridha, maka takdir pun tetap menimpanya, sedangkan ia DALAM KEADAAN TERCELA serta tidak dilindungi.

Selama kepaqsrahan dan ridhanya benar, maka penjagaan dan perlindungan terhadapnya akan menaunginya dalam apa yang ditakdirkan, sehingga dia berada di antara penjagaan dan perlindungan-Nya.

10. Syukur.

Orang yang beriman kepada qadar mengetahui bahwa segala kenikmatan yang dimilikinya berasal dari Allah semata dan bahwa Allah-lah yang menolak segala hal yang dibenci dan segala penderitaan, lalu hal itu mendorongnya untuk mengesakan Allah dengan bersyukur.

Jika datang kepadanya sesuatu yang disukainya, maka dia bersyukur kepada Allah karenanya, karena Dia-lah yang memberi nikmat dan karunia. Jika datang kepadanya sesuatu yang tidak disenanginya, dia bersyukur kepada Allah atas apa yang telah ditakdirkan kepadanya, dengan menahan amarah, TIDAK MENGELUH, memelihara adab, dan menempuh jalan ilmu. Sebab, mengenal Allah dan beradab kepada-Nya akan mendorongnya untuk bersyukur kepada Allah atas segala yang disenangi dan yang tidak disenangi, meskipun bersyukur atas hal-hal yang tidak disenangi itu lebih berat dan lebih sulit. Karena itu, kedudukan syukur lebih tinggi daripada ridha.

Jika manusia senantiasa bersyukur, maka kenikmatannya menjadi langgeng dan melimpah, karena syukur adalah pengikat kenikmatan-kenikmatan yang masih ada, dan pemburu kenimatan-kenikmatan yang hilang. Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman:


وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

” Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Ibrahim: 7).

Apabila engkau tidak melihat keadaanmu bertambah, maka hadapilah ia dengan syukur. [Madaarijus Saalikiin (II/199, 235, 243)]

Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi berkata:
Qadha’ berjalan dan di dalamnya berisi kebaikan sebagai tambahan…
untuk orang mukmin yang percaya kepada Allah, bukan untuk orang yang lalai…
Jika datang kegembiraan kepadanya atau mendapatkan kesusahan pada dua keadaan tersebut dia mengucapkan: “Alhamdulillah”. [Badrul Akbaad, hal. 9]

11. Kegembiraan.

Orang yang beriman kepada qadar akan bergembira dengan keimanan ini, yang kebanyakan manusia tidak mendapatkannya. Allah Ta’ala berfirman:


قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.” (Yunus: 58)

Kemudian orang yang beriman kepada qadar memungkinkan keadaannya untuk MENINGKAT dari ridha kepada ketentuan Allah dan bersyukur kepadanya, kepada derajat kegembiraan. Di mana ia bergembira dengan segala yang ditakdirkan dan ditentukan Allah kepadanya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Kegembiraan adalah kenikmatan, kelezatan dan kesenangan hati yang paling tinggi, maka kegembiraan adalah kenikmatannya sedangkan kesedihan adalah adzabnya.

Gembira kepada sesuatu adalah melebihi ridha kepadanya, karena ridha adalah ketentraman, ketenangan, dan lapang dada, sedangkan kegembiraan adalah kelezatan, kesenangan, dan suka cita. SETIAP ORANG YANG GEMBIRA ADALAH ORANG YANG RIDHA, TAPI TIDAK SEMUA ORANG YANG RIDHA ADALAH ORANG YANG BERGEMBIRA. Karenanya, kegembiraan lawannya adalah kesedihan, sedangkan ridha lawannya adalah kebencian. Kesedihan menyakitkan orangnya, sedangkan kebencian tidak menyakitkannya, kecuali bila disertai kelemahan untuk membalas. Wallahu a’lam. [Madaarijus Saalikiin (III/150)]

12. Tawadhu’ (rendah hati).

Iman kepada qadar membawa pelakunya kepada ketawadhu’an, meskipun dia diberi harta, kedudukan, ilmu, popularitas, atau selainnya, karena dia mengetahui bahwa segala yang diberikan kepadanya hanyalah dengan takdir Allah. Sekiranya Allah menghendaki, Dia dapat mencabut semua itu darinya.

Karena itulah, dia bertawadhu’ kepada Allah Azza wa Jalla dan kepada sesamanya, serta MENGENYAHKAN KESOMBONGAN DAN KECONGKAKAN DARI DIRINYA.

Jika manusia bertawadhu’ kepada Allah Azza wa Jalla, maka kemuliaannya sempurna, nilainya tinggi, keutamaannya mencapai puncaknya, kewibawaannya tinggi di hati manusia, dan Allah menambahkan kemuliaan serta derajat besar kepaqdanya. Karena barang siapa yang bertawadhu’ kepada Allah, maka Dia meninggikannya. Dan jika Allah telah meninggikan derajat seorang hamba, maka siapakah yang dapat merendahkannya?

Sebaik-baik akhlak pemuda dan yang paling sempurna ialah ketawadu’annya kepada manusia padahal derajatnya tinggi. [Ghadzaa-ul Albaab, as-Safarini (II/223)]

13. Qana’ah (ridha dengan pembagian Allah) dan kemuliaan diri.

Seorang yang beriman kepada qadar mengetahui bahwa rizkinya telah tertuliskan, dan bahwa ia tidak akan meninggal sebelum ia menerima sepenuhnya, juga bahwa rizki itu tidak akan dicapai oleh semangatnya orang yang sangat berhasrat dan tidak dapat dicegah oleh kedengkian orang yang dengki. Ia pun mengetahui bahwa seorang makhluk, sebesar apa pun usahanya dalam memperoleh ataupun mencegah dari dirinya, maka ia tidak akan mampu, kecuali apa yang telah Allah tetapkan baginya.

Dari sini, muncullah qana’ah terhadap apa yang telah diberikan, kemuliaan diri dan baiknya usaha, serta membebaskan diri dari penghambaan kepada makhluk dan mengharap pemberian mereka.

Hal tersebut tidak berarti bahwa jiwanya tidak berhasrat pada kemuliaan, tetapi yang dimaksudkan dengan qana’ah adalah, qana’ah pada hal-hal keduniaan setelah ia menempuh usaha, jauh dari kebakhilan, kerakusan, dan dari mengorbankan rasa malunya. Sehingga ia tidak mencari muka dan bermuka dua, dan ia pun tidak melakukan sesuatu kecuali hal itu dapat memenuhi (menambah) imannya, dan hanya kebenaranlah yang ia junjung.

Kesimpulannya, hal yang dapat memutuskan harapan kepada makhluk dari hati, adalah dengan ridha atas pembagian Allah Azza wa Jalla (qana’ah). Barang siapa ridha dengan hukum dan pembagian Allah, maka tidak akan ada tempat pada hatinya untuk berharap kepada makhluk.

14. Cita cita yang tinggi.

Maksud dari cita-cita yang tinggi adalah menganggap kecil apa yang bukan akhir dari perkara-perkara yang mulia. Sedangkan cita-cita yang rendah, yaitu sebaliknya dari hal itu, ia lebih mengutamakan sesuatu yang tidak berguna, ridha dengan kehinaan dan tidak menganggap perkara-perkara yang mulia.

Iman kepada qadar membawa pelakunya kepada kemauan yang tinggi dan menjauhkan mereka dari kemalasan, berpangku tangan, dan pasrah kepada takdir. Karena itu, anda melihat orang yang beriman kepada qadar -dengan keimanan yang benar- adalah tinggi cita-citanya, besar jiwanya, mencari kesempurnaan, dan menjauhi perkara-perkara remeh dan hina. Ia tidak rela kehinaan untuk dirinya, tidak puas dengan keadaan yang pahit lagi menyakitkan, dan tidak pasrah terhadap berbagai aib dengan dalih bahwa takdir telah menentukannya.

Bahkan keimanannya mengharuskannya untuk BERUSAHA BANGKIT, mengubah keadaan yang pahit dan menyakitkan, kepada yang lebih baik, dengan cara-cara yang disyari’atkan, dan untuk terbebas dari berbagai aib dan kekurangan. Sebab, berdalih dengan takdir hanyalah dibenarkan pada saat tertimpa musibah, bukan pada aib-aib (yang dilakukannya).

[Lihat al-Himmatul ‘Aaliyah Mu’awwiqaatuha wa Muqawwimaatuha, Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd]

15. Bertekad dan bersungguh-sungguh dalam berbagai hal.

Orang yang beriman kepada qadar, ia akan bersungguh-sungguh dalam berbagai urusannya, memanfaatkan peluang yang datang kepadanya, dan sangat menginginkan segala kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat.

Bahkan, keimanan ini memiliki pengaruh yang besar dalam mendorong para tokoh untuk melakukan pekerjaan besar, yang mereka menduga sebelumnya bahwa kemampuan mereka dan berbagai faktor yang mereka miliki pada saat itu tidak cukup untuk menggapainya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“…Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allah, dan janganlah bersikap lemah! Jika sesuatu menimpamu, janganlah mengatakan, ‘Seandainya aku melakukan, niscaya akan demikian dan demikian.’ Tetapi katakanlah, ‘Ini takdir Allah, dan apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi…” [HR. Muslim (no. 2664)]

16. Mengetahui hikmah Allah Azza wa Jalla.

Iman kepada qadar dengan cara yang benar akan mengungkap bagi manusia hkmah Allah Azza wa Jalla dalam apa yang ditentukan-Nya, apakah itu yang berupa kebaikan atau keburukan. Lantas dia mengetahui bahwa di balik pemikirannya dan imajinasinya, ada Dzat yang lebih agung, LEBIH TAHU DAN LEBIH BIJAKSANA.

Karena itu, seringkali sesuatu terjadi dan kita tidak menyukainya, padahal itu baik bagi kita, dan seringkali kita melihat sesuatu memiliki maslahat secara zhahirnya, sehingga kita pun menyukai dan menginginkannya, tetapi hikmah tidak menghendakinya. Sebab, Dzat yang mengatur manusia lebih tahu tentang kemaslahatannya dan akibat perkaranya. Bagaimana tidak, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Di antara rahasia ayat ini dan hikmahnya adalah, bahwa ayat ini mengharuskan hamba untuk pasrah kepada Dzat yang mengetahui berbagai akibat urusannya dan ridha dengan apa yang ditentukan-Nya atasnya, karena dia mengharapkan kepada-Nya akibat baik (dari urusan)nya.

Betapa banyak manusia -sebagai contoh- yang menyesal ketika ketinggalan waktu take off pesawat terbang, dan ternyata penyesalan tersebut hanya sementara. Kemudian dikabarkan tentang jatuhnya pesawat (yang telah lepas landas) dan semua penumpangnya tewas.

Betapa banyak manusia yang sesak dan sempit dadanya karena kehilangan sesuatu yang disukai atau datangnya sesuatu yang menyedihkan. Ketika perkara itu tersingkap dan rahasia takdir itu diketahui, anda pasti melihatnya dalam keadaan senang dan gembira karena akibatnya ternyata baik baginya.

17. Ketenangan hati dan ketentraman jiwa.

Orang yang beriman kepada qadar hatinya tenang, jiwanya tentram, dan TIDAK BANYAK BERPIKIR MENGENAI KEBURUKAN YANG BAKAL DATANG. Kemudian, jika keburukan tersebut datang, hatinya tidak terbang tercerai berai, tetapi dia tabah terhadap hal itu dengan mantap dan sabar.

Anda melihat pada diri orang-orang khusus dari kalangan umat Islam, dari kalangan ulama ‘amilin (ulama yang mengamalkan ilmunya) dan ahli ibadah yang taat lagi mengikuti Sunnah, berupa ketenangan hati dan ketentraman jiwa yang tidak terbayangkan dalam benak dan tidak pula terbayang dalam imajinasi. Mereka dalam hal ini memiliki derajat yang tinggi dan kedudukan yang sempurna.

Inilah Amirul Mukminin, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah, mengatakan, “Aku tidak mendapatkan kegembiraan kecuali dalam hal yang sudah di-qadha’ dan di-qadarkan.” [Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam, Ibnu Rajab (I/287)]

Syaikhul Islam, Abul ‘Abbas Ahmad Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya di dunia ini ada Surga, yang barang siapa tidak pernah memasukinya maka dia tidak akan memasuki Surga akhirat.”

(Al-Waabilush Shayyib minal Kalimith Thayyib, Ibnul Qayyim, hal. 69 dan Asy-Syahaadatuz Zakiyyah fii Tsanaa-il A-immah ‘alaa Ibni Taimiyyah, karya Mar’il Karami al-Hanbali, hal. 34)

Beliau mengatakan dengan pernyataan yang terkenal, ketika dimasukkan dalam penjara, “Apakah yang akan diperbuat para musuhku terhadapku, sedangkan Surgaku dan tamanku ada dalam dadaku, ke mana aku pergi maka ia selalu bersamaku, tidak pernah berpisah denganku. Dipenjarakannya aku adalah khulwah (menyepi), pembunuhan terhadapku adalah syahadah (mati sebagai syahid), dan pengusiranku dari negeriku adalah wisata.”

[Dzail Thabaqaatil Hanaabilah, Ibnu Rajab (II/402) dan lihat Al-Waabilush Shayyib, hal. 69)]

Qadar adalah “sistem tauhid” [Majmuu’ul Fataawaa (II/113)], sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, dan tauhid itu sendiri adalah sebagai sistem kehidupan. maka kehidupan manusia tidak akan benar-benar istiqomah (lurus), kecuali dengan tauhid, dan tauhid tidak akan lurus kecuali dengan beriman kepada qadha’ dan qadar dengan keimanan yang benar, yang berdasarkan pemahaman para salafush shalih.

Disebutkan dari Salafush Shalih sejumlah pernyataan yang indah dan kata-kata yang berharga (mengenai takdir), yang menjelaskan makna dan urgensinya, menganjurkan agar beriman dan ridha dengan qadha’ dan qadar Allah, serta MENGINGATKAN supaya hati-hati terhadap kebalikan sikap itu.

Al-Walid, putera Sahabat mulia ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu anhu, mengatakan:

“Aku menemui ‘Ubadah saat sedang sakit, aku memperkirakan kematian akan menjemputnya, maka aku katakan, ‘Wahai ayah, berwasiatlah kepadaku dan BERSUNGGUH-SUNGGUHLAH UNTUKKU.’
Ia mengatakan, ‘Dudukkanlah aku!’
Ketika aku telah mendudukkannya, ia mengatakan, ‘Wahai puteraku, sesungguhnya engkau tidak akan merasakan manisnya iman, dan TIDAK AKAN MENCAPAI HAKIKAT PENGETAHUAN TENTANG ALLAH Azza wa Jalla, hingga engkau beriman kepada qadar, yang baik dan yang buruk.’
Aku bertanya, ‘Wahai ayah, bagaimana aku mengetahui apakah qadar yang baik dan yang buruk itu?’
Ia mengatakan, ‘Kamu tahu bahwa apa yang tidak mengenaimu tidak akan menimpamu, sedangkan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Wahai puteraku, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya makhluk yang pertama kali diciptakan Allah Ta’ala adalah al-qalam (pena). Kemudian Dia berfirman kepadanya, ‘Tulislah!’ Lalu ia menuliskan pada waktu itu segala YANG AKAN TERJADI hingga hari kiamat.’
Wahai puteraku, jika engkau mati, sedangkan engkau tidak dalam keadaan demikian, NISCAYA ENGKAU AKAN MASUK NERAKA.'”

[HR. Ahmad (V/317) dan at-Tirmidzi (no. 4155), Syaikh al-Albani berkata, “Hadits ini shahih tanpa diragukan. Lihat Haasyiyah Misykaatil Mashaabih (I/34)]

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Qadar adalah sistem tauhid, barang siapa yang mentauhidkan Allah dan beriman kepada qadar, maka sempurnalah tauhidnya, dan barang siapa yang mentauhidkan Allah tapi mendustakan qadar-Nya, maka cacatlah tauhidnya.” [Majmuu’ul Fataawaa (II/113)]

Dia juga mengatakan, “Segala sesuatu ditentukan dengan qadar, hingga keadaanmu saat meletakkan tanganmu di atas pipimu pun (telah ditakdirkan pula).” (HR. Bukhari, dalam Khalq Af’aalil ‘Ibaad, hal. 26)

Iman kepada qadar berdiri di atas 4 rukun, merupakan pengantar untuk memahami masalah qadar. Iman kepada qadar tidak sempurna kecuali dengan merealisasikannya secara keseluruhan, sebab sebagiannya berkaitan dengan sebagian lainnya.

Barang siapa yang memantapkannya secara keseluruhan, maka keimanannya kepada qadar telah sempurna, dan barang siapa yang mengurangi salah satu di antaranya atau lebih, maka keimanannya kepada qadar TELAH RUSAK. Rukun-rukun tersebut ialah:
1. Al-‘Ilm (Ilmu)
2. Al-Kitaabah (Pencatatan)
3. Al-Masyii-ah (Kehendak)
4. Al-Khalq (Penciptaan)
http://www.facebook.com/note.php?note_id=374173750174&id=1084713685