‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata: “Aku memasuki waktu pagi, sedangkan kebahagiaan dan kesusahan sebagai dua kendaraan di depan pintuku, aku tidak peduli yang manakah di antara keduanya yang aku tunggangi.” (Al-Kitaabul Jaami’ li Sirah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz al-Khaliifah al-Khaa-if al-Khaasyi’, ‘Umar bin Muhammad al-Khadhr, tahqiq Dr. Muhammad Shidqi al-Burnu, II/436)

Bagi yang belum sempat membaca bagian pertama dari artikel ini, silakan klik link di bawah ini:
http://www.facebook.com/notes/abu-muhammad-herman/pahamilah-takdir-dengan-benar-maka-hatimu-akan-tenang-bag-1/374173750174

Iman kepada qadar berdiri di atas empat rukun, merupakan pengantar untuk memahami masalah qadar. Iman kepada qadar tidak sempurna kecuali dengan merealisasikannya secara keseluruhan, sebab sebagiannya berkaitan dengan sebagian lainnya.

Barang siapa yang memantapkannya secara keseluruhan, maka keimanannya kepada qadar telah sempurna, dan barang siapa yang mengurangi salah satu di antaranya atau lebih, maka keimanannya kepada qadar TELAH RUSAK. Rukun-rukun tersebut ialah:

1. Al-‘Ilm (Ilmu)
2. Al-Kitaabah (Pencatatan)
3. Al-Masyii-ah (Kehendak)
4. Al-Khalq (Penciptaan)

1. Al-‘Ilm (Ilmu).

Yaitu, beriman bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, baik secara global maupun terperinci, azali (sejak dahulu) dan abadi, baik hal itu yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan-Nya maupun perbuatan-perbuatan para hamba-Nya, sebab ilmu-Nya meliputi apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi yang seandainya terjadi, bagaimana terjadinya.

Dia mengetahui yang ada, yang tidak ada, yang mungkin, serta yang mustahil, dan tidak luput dari ilmu-Nya seberat dzarrah pun apa yang ada di langit dan di bumi. Dia mengetahui semua ciptaan-Nya sebelum Dia menciptakan mereka. Dia mengetahui rizki, ajal, ucapan, perbuatan, maupun semua gerak dan diam mereka, juga siapakah ahli Surga dan siapakah ahli Neraka.

Allah Ta’ala berfirman:


وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

” Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhmahfuzh).” (Al-An’aam: 59)

Allah Ta’ala juga berfirman;


إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Qalam: 7)

عَالِمِ الْغَيْبِ لا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ وَلا أَصْغَرُ مِنْ ذَلِكَ وَلا أَكْبَرُ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“…(Rabb-ku) Yang mengetahui yang gaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya seberat zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Saba’: 3)

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

” Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Al-An’aam: 59)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada satu jiwa pun dari kalian melainkan TELAH DIKETAHUI tempat tinggalnya, baik di Surga maupun Neraka.” (HR. Muslim dalam al-Qadr no.2647)

2. Al-Kitaabah (Penulisan).

Yaitu, mengimani bahwa Allah telah mencatat apa yang telah diketahui-Nya dari ketentuan-ketentuan para makhluk hingga hari kiamat dalam al-Lauhul Mahfuzh.

Para Sahabat, Tabi’in, dan seluruh Ahlus Sunnah wal Hadits sepakat bahwa segala yang terjadi hingga hari kiamat telah dituliskan dalam Ummul Kitab, yang dinamakan juga al-Lauhul Mahfuzh, adz-Dzikr, al-Imaamul Mubiin, dan al-Kitaabul Mubiin, semuanya mempunyai makna yang sama. (Syifaa-ul ‘Aliil, hal. 89).

Dalil-dalil mengenai tingkatan ini banyak, baik dari al-Qur’an maupun as-Sunnah. Allah Azza wa Jalla berfirman:


أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالأرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

” Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (Al-Hajj: 70)

وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Yasiin; 12)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Allah (telah) mencatat seluruh takdir para makhluk 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” [HR. Muslim (VIII/51)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda;

“Tidak ada satu jiwa pun yang bernapas melainkan ALLAH TELAH MENENTUKAN TEMPATNYA, baik di Surga ataupun Neraka, dan juga telah dituliskan celaka atau bahagia(nya).” [HR. Bukhari dalam at-Tafsiir (VI/84) dan Muslim dalam al-Qadar (VIII/46-47)].

3. Al-Masyii-ah (Kehendak).

Tingkatan ini mengharuskan keimanan kepada masyii-ah Allah yang terlaksana dan kekuasaan-Nya yang sempurna. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi, dan bahwa tidak ada gerak dan diam, HIDAYAH dan KESESATAN, melainkan dengan masyii-ah-Nya.

Nash-nash yang menunjukkan dasar ini sangat banyak sekali dari al-Qur’an dan as-Sunnah, di antaranya adalah:

Firman Allah Ta’ala:


وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ

“Dan Rabb-mu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” (Al-Qashash; 68)

وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (At-Takwiir; 29)

وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya-Allah”.” (Al-Kahfi: 23-24)

وَلَوْ أَنَّنَا نَزَّلْنَا إِلَيْهِمُ الْمَلائِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتَى وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلا مَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ

“Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Al-An’aam: 111)

مَنْ يَشَأِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Barang siapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.” (Al-An-aam: 39)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya hati manusia semuanya berada di antara dua jari dari jari jemari ar-Rahman seperti satu hati, Dia membolak-balikkannya ke mana saja Ia kehendaki.” (HR. Muslim no. 2654)

4. Al-Khalq (Penciptaan).

Tingkatan ini mengharuskan keimanan, bahwa semua makhluk adalah ciptaan Allah, dengan dzat, sifat, geraknya, dan bahwa segala sesuatu selain Allah adalah makhluk yang diadakan dari ketidakadaan, ada setelah sebelumnya tidak ada.

Tingkatan ini ditunjukkan oleh kitab-kitab samawi, disepakati para rasul, disetujui fitrah yang lurus, serta akal yang sehat. [Lihat ash-Shafadiyyah, Ibnu Taimiyyah (II/109)].

Dalil-dalil mengenai tingkatan ini nyaris tidak terbilang, di antaranya adalah, firman Allah Ta’ala:


اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

“Allah yang menciptakan segala sesuatu…” (Az-Zumar: 62)

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ

“Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang..” (Al-An’aam: 1)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah menciptakan semua (makhluk) yang berbuat dan juga SEKALIGUS PERBUATANNYA.” (HR. Bukhari dalam Khalq Af’aalil ‘Ibaad, dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu)

Perbuatan hamba adalah makhluk

Perbuatan para hamba termasuk dalam kategori keumuman ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak ada sesuatu pun yang mengeluarkannya dari keumuman firman-Nya:


اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

“Allah yang menciptakan segala sesuatu…” (Az-Zumar: 62)

Ringkasnya mengenai masalah ini, bahwa perbuatan hamba seluruhnya, baik ketaatan maupun kemaksiatan, termasuk dalam kategori ciptaan Allah, qadha’ dan qadar-Nya.

Allah Azza wa Jalla mengetahui apa yang akan Dia ciptakan pada para hamba-Nya, Dia mengetahui apa yang mereka perbuat, menuliskan hal itu dalam al-Lauhul Mahfuzh, dan menciptakan mereka sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Berlakulah qadar-Nya atas mereka, lalu mereka melakukan sesuai apa yang Dia kehendaki pada mereka. Allah menunjuki siapa yang telah Dia tetapkan kebahagiaan untuk mereka, dan menyesatkan siapa yang telah Dia tetapkan kesengsaraan atas mereka.

Dia mengetahui ahli Surga dan memudahkan mereka untuk beramal dengan amalan ahli Surga, dan Dia pun mengetahui ahli Neraka dan memudahkan mereka untuk beramal dengan amalan ahli Neraka.

Perbuatan para hamba adalah berasal dari Allah dalam hal diciptakan, diadakan dan ditakdirkannya. Sedangkan hal itu berasal dari para hamba dalam hal dikerjakan dan diusahakannya. Allah-lah yang menciptakan perbuatan mereka, sedangkan merekalah yang melakukannya.

Kita beriman kepada semua nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah yang menunjukkan kesempurnaan penciptaan Allah dan kekuasaan-Nya atas segala sesuatu, baik mengenai perbuatan-perbuatan maupun sifat-sifat. Sebagaimana halnya kita mengimani nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah yang menunjukkan bahwa para hambalah yang pada hakikatnya berbuat kebaikan dan keburukan. Di atas hal inilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersepakat.

[Lihat: al-Masaa-il war Rasaa-il, Imam Ahmad bin Hanbal (I/147-150); al-Ibaanah, Abul Hasan al-‘Asy’ari, hal. 107-130; Risaalah ats-Tsaghar, Abul Hasan al-‘Asy’ari, hal. 75, 78 dan 83); al-Ikhtilaaf fil Lafz war Radd ‘alal Jahmiyyah wal Musyabbihah, Ibnu Qutaibah, hal. 21-23; al-I’tiqaad, al-Baihaqi, hal. 73; Lum’atul I’tiqaad, Ibnu Qudamah, hal. 21; an-Nubuwwat, Ibnu Taimiyyah, hal. 437; at-Ta’liiqaat ‘ala Lum’atil I’tiqaad, Syaikh al-Jibrin, hal. 61-64; Lum’atul I’tiqaad, dengan syarah Syaikh al-‘Utsaimin, hal. 95].

Nash-nash yang telah disebutkan pada tingkatan keempat dari pembahasan tingkatan-tingkatan qadar menunjukkan hal itu. Di sana terdapat dalil yang LEBIH TEGAS mengenai masalah ini, seperti firman Allah Ta’ala:


وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Allah-lah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu.” (Ash-Shaaffaat: 96).

Menurut para ahli tafsir, mengenai makna maa (apa) dalam ayat ini, ada dua tinjauan:

1. Ia bermakna masdar, sehingga maknanya: Allah yang menciptakan kalian dan perbuatan kalian.

2. Bermakna alladzi (yang), sehingga maknanya: Allah yang menciptakan kalian dan yang menciptakan apa yang kalian kerjakan dengan tangan-tangan kalian berupa berhala-berhala.

Ayat ini berisikan dalil bahwa PERBUATAN HAMBA itu adalah CIPTAAN ALLAH.

[Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi (VII/70); Jaami’ul Bayaan, Ibnu Jarir ath-Thabari (XII/75; Tafsiir al-Qur’aanil ‘Azhiim, Ibnu Katsir]

Demikian pembahasan takdir untuk kali ini, semoga bermanfaat baik untuk diri saya sendiri maupun untuk ikhwah sekalian, Allahumma amin.

***

Abu Muhammad Herman

TAKDIR ADA DUA MACAM:
http://www.facebook.com/note.php?note_id=126962560174