Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Hendaknya para penuntut ilmu mencari nafkah untuk biaya hidupnya terutama bagi mereka yang telah berumah tangga bahkan wajib hukumnya bagi mereka. Ia tidak boleh malas bekerja dan menjadi beban orang lain, apalagi dengan meminta-minta.
Sebab, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengecam perbuatan itu dalam sabda beliau

“Artinya : Seseorang senantiasa meminta-minta kepada manusia hingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya.” [1]

Seorang penuntut ilmu harus mencari nafkah guna menjaga kehormatannya meskipun harus dengan menjual kayu bakar di pasar.Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Artinya : Sungguh, seseorang dari kalian mengambil talinya lalu membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya kemudian ia menjualnya sehingga dengannya Allah menjaga kehormatannya, itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada manusia, mereka memberinya atau tidak memberinya.” [2]

‘Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu pernah mengatakan, “Wahai para pembaca Al-Qur-an, berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan, carilah sebagian dari karunia Allah, dan janganlah kalian menjadi beban bagi manusia.” [3]

Sa’id bin al-Musayyib rahimahullaah mengatakan, “Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak mengum-pulkan harta (mencari nafkah), yang dengan harta itu ia bisa menjaga kehormatan dirinya dan melaksanakan amanatnya.” [4]

Namun, usaha yang dilakukannya haruslah dari usaha yang halal dan dibenarkan syari’at serta tidak tamak dalam mengumpulkan harta karena harta adalah fitnah (ujian) bagi ummat Islam. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda
“Artinya : Setiap ummat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah ummatku adalah harta.” [5]

Abu Darda’ radhiyallaahu ‘anhu mengatakan, “Termasuk dari kefaqihan (kefahaman) seorang Muslim ialah upayanya dalam memperbaiki mata pencahariannya.” Beliau juga mengatakan, “Baiknya mata pencaharian termasuk dari baiknya agama, dan baiknya agama termasuk dari kebaikan akal.” [6]

Abu ‘Umar Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullaah menga-takan, “Menurut para ulama, harta yang tercela adalah harta yang dicari dari usaha yang tidak benar dan diambil dari penghasilan yang tidak halal. Adapun atsar-atsar yang mencela harta sebagai berikut
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Artinya : Dua ekor serigala lapar yang dilepas di sekumpulan kambing tidaklah lebih merusak daripada kecintaan (ketamakan) seseorang terhadap harta dan kehormatan dalam agamanya.” [7]

‘Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Tidaklah Allah Ta’ala membukakan (pintu) dinar dan dirham atau emas dan perak atas suatu kaum, melain-kan mereka akan menumpahkan darah mereka dan memutuskan hubungan silaturahmi mereka.” [8]

Penuntut ilmu yang diberikan keluasan rizki oleh Allah Ta’ala, ia wajib bersyukur kepada Allah Ta’ala karena dengannya ia bisa menuntut ilmu, membeli kitab-kitab dan buku-buku yang bermanfaat, membantu dakwah, juga ia bisa menolong orang yang susah, bersedekah, menolong sanak famili, dan meninggalkan ahli warisnya dalam keadaan berkecukupan.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Artinya : Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan yang diatas adalah yang memberi (berinfak) dan tangan yang di bawah adalah yang menerima (meminta).” [9]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Sa’ad bin Abi Waqqash,
“Artinya : Sungguh, engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya (berkecukupan) lebih baik daripada engkau meninggalkannya dalam keadaan faqir, mereka menengadahkan tangannya (mengemis) kepada manusia. Dan tidaklah engkau menginfakkan suatu nafkah yang kautujukan untuk mencari wajah Allah, melainkan engkau akan diberikan ganjaran pahala karenanya.” [10]

[Disalin dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO BOX 264 – Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia, Cetakan Pertama Rabi’uts Tsani 1428H/April 2007M]

Foote Notes
[1]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1474) dan Muslim (no. 1040 (104), lafazh ini milik al-Bukhari, dari Sha-habat Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma.
[2]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1471, 2075), dari Shahabat az-Zubair bin al-‘Awwam rahdiyallaahu ‘anhu.
[3]. Atsar hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/725, no. 1330).
[4] Ibid (I/720, no. 1312).
[5]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2336), Ahmad (IV/160), Ibnu Hibban (no. 2470-al-Mawaarid), dan al-Hakim (IV/318), lafazh ini milik at-Tirmidzi, beliau berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Dari Shahabat Ka’ab bin ‘Iyadh radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 592).
[6]. Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhilihi (I724, no. 1323-1324).
[7]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (III/456, 460), at-Tirmidzi (no. 2376), dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Jaami’ (I/640, no. 1106), lafazh ini milik at-Tirmidzi, dari Shahabat Ka’ab bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 5620).
[8]. Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/712, no. 1293
[9]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1429), Muslim (no. 1033), dan Ibnu ‘Abdil Barr (I/714, no. 1295), lafazh ini milik al-Bukhari, dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyal-laahu ‘anhuma.
[10]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5354), Muslim (no. 1628), dan Ibnu ‘Abdil Barr (I/714, no. 1696), lafazh ini milik Muslim.

sumber: almanhaj.or.id