Oleh : Ustadzuna Abu Abdirrohman Ab-dulloh Amin hafidzohulloh

D ari Ibnu Mas’ud, ia berkata:

Nabi sholat Isya’ kemudian pergi dan menggandeng tangan Abdulloh bin Mas’ud hingga ke-luar bersama beliau menuju lembah padang pasir berkerikil di Makkah lalu beliau men-dudukkannya kemudian beliau menggariskan untuknya sebuah garis kemudian bersabda:

“Janganlah engkau meninggalkan garismu karena sesungguhnya akan berhenti di hadapanmu beberapa orang, janganlah engkau berbicara dengan mereka karena mereka tidak akan berbicara kepadamu.”

Lalu Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasalam pergi sesuai dengan keinginan beliau, hingga ketika aku dalam keadaan duduk dalam garisku tiba-tiba datang kepadaku beberapa orang, sepertinya mereka adalah orang Zuth(1), rambut dan jasad mereka, aku tidak melihat aurat dan baju mereka, mereka berhenti di ha-dapanku, tidak melewati garis itu, lalu mereka kembali menuju ke arah Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasalam hingga ketika telah sampai akhir malam, (mereka tidak datang) namun Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasalam yang datang kepadaku dalam keadaan aku sedang duduk,

lalu beliau bersabda: “Aku tidak tidur sejak tadi malam.”

Lalu beliau masuk ke dalam garisku dan berbantalkan pahaku kemudian beliau tidur, dan Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasalam apabila tidur beliau mendengkur. Ketika aku dalam keadaan duduk dan Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasalam berbantal-kan pahaku, tiba-tiba aku mendapati beberapa orang memakai baju putih, Alloh lebih tahu be-tapa bagusnya mereka, mereka berhenti di hadapanku lalu sebagian mereka duduk di sisi kepala Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasalam dan sebagian yang lain di sisi kaki beliau, kemudian mereka berkata:

“Kita tidak per-nah sama sekali melihat seorang hamba yang diberi seperti apa yang telah diberikan kepada Nabi ini, sesungguhnya kedua matanya tidur namun hatinya terjaga, berikanlah sebuah perumpamaan untuknya dengan seorang tuan yang membangun sebuah istana, lalu ia menyiapkan sebuah hi-dangan kemudian mengundang orang-orang untuk makanan dan minumannya, maka barang siapa yang menghadiri undangannya dia akan memakan makanannya dan meminum minu-mannya, dan barang siapa yang tidak mau menghadiri undangannya, niscaya ia akan membalas-nya atau ia akan menyiksanya.”

Kemudian mereka berlalu, dan Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasalam terbangun pada saat itu kemudian beliau bersabda:

“Apakah engkau mendengar apa yang mereka katakan? Dan apakah engkau tahu siapakah mereka?”

Saya menjawab:

“Alloh dan Rosul-Nya yang le-bih tahu.”

Beliau bersabda:

“Mereka adalah para malaikat, dan tahukah engkau apakah perumpamaan yang mereka buat?”

Saya menjawab:

“Alloh dan Rosul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda: “Perumpamaan yang mereka buat adalah: Ar-Rohman (Alloh) membangun surga lalu menyeru para hamba-Nya kepadanya, maka barang siapa yang memenuhi seruan itu niscaya ia masuk surga dan barang siapa yang tidak memenuhi seruan-Nya niscaya Alloh akan menghukum atau mengadzabnya.”

Dikeluarkan oleh at-Tirmidzi: 5/145/2861, al-Bazzar: 5/271/1886, dan dishohihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shohih Sunan at-Tirmidzi: 2296. ******

Subhanalloh, ini adalah sebuah hadits yang mengandung kisah yang menakjubkan dan terdapat pelajaran yang amat berharga bagi umat Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasalam.

Ini bukanlah kisah fiktif atau dongeng dan khayalan semata yang dibuat oleh manusia melainkan kisah nyata dari zaman keemasan yang dihiasi dengan mutiara hikmah dan teladan yang agung dari generasi sahabat Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasalam .

Kita bisa melihat ketika Ibnu Mas’ud memberikan ketaatan total kepada Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasalam  tatkala beliau shollallohu alaihi wa sallam memerintahnya untuk tetap berada dalam tempat yang Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasalam tetapkan baginya telah memberikan perlindungan dari keburukan kaum yang datang dalam ben-tuk yang sangat menakutkan, padahal antara dia dengan mereka tidak lebih dari sekadar sebuah garis yang seandainya angin menerpanya tentu akan menghapuskan bekasnya, namun garis itu bukanlah hanya sekadar sebuah garis biasa, namun ia adalah garis sunnah, barang siapa yang berpegang dengannya niscaya Alloh akan memberikan perlindungan dari apa yang akan menimpa dirinya, Ibnu Mas’ud tidak bertanya mengapa dan untuk apa ia diperintahkan demikian, duduk sepanjang malam, tidak berpindah dan melewati garis di tempat tersebut namun yang ia lakukan adalah sami’na wa atho’na (kami mendengar dan kami taat). Ibnu Mas’ud tidaklah sendirian dalam ketaatan seperti ini.

Bahkan sepeninggal Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasalam , Abu Bakar ash-Shiddiq misalnya, dengan ketaatan dan ittiba’nya kepada Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasalam telah mem-buahkan pertolongan dan perlindungan Alloh kepada umat ini hingga Abu Huroiroh berkata:

“Demi Alloh yang tiada yang berhak diibadahi melainkan Dia, seandainya Abu Bakar tidak menjadi kholifah, niscaya Alloh tidak akan dii-badahi.”

Ia mengucapkan perkataan ini tiga kali, lalu ditanyakan kepadanya: “Mengapa, wahai Abu Huroiroh?”

Ia berkata: “Sesungguhnya Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasalam telah mengarahkan Usamah bin Zaid d bersama tujuh ratus pasukan menuju Syam, ketika ia sampai di Dzi Khosyab, Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasalam wafat, dan orang-orang Arab di sekitar Madinah murtad, maka berkumpullah para sahabat Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasalam , mereka berkata:

“Wahai Abu Bakar! Kembalikanlah mereka, mereka telah diarahkan ke Romawi, sementara orang-orang Arab di seki-tar Madinah telah murtad!”

Abu Bakar menjawab:

“Demi Dzat yang tiada yang berhak diibadahi melainkan Dia, seandainya anjing-anjing menyeret kaki-kaki istri Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasalam aku tidak akan mengembalikan pasukan yang telah diarahkan oleh Rosululloh  shalallahu ‘alaihi wasalam, dan aku tidak akan melepaskan bendera yang telah diikat oleh Rosululloh .”

Abu Bakar tetap mengarahkan Usamah, hingga tidaklah ia melewati suatu kabilah yang ingin murtad kecuali mereka berkata:

“Seandainya bukan karena mereka memiliki kekuatan tentu tidak akan keluar seperti ini dari mereka, namun kita biarkan saja mereka hingga mereka bertemu dengan Romawi, lalu mereka pun berhadapan dengan Romawi dan berhasil mengalahkan dan menumpas mereka, dan mereka pun kembali dengan selamat.” Sehingga mereka pun tetap berada dalam Islam(2). Demikianlah ketaatan dan ittiba’ para sahabat kepada sunnah Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasalam telah membuahkan per-tolongan atas musuh-musuhnya dan kekokohan di atas Islam. Sudahkah kita mengikuti jejak mereka?

Nas’alullohat-taufiq. _________________________________

Catatan Kaki: (1) “Az-Zuth” sebagaimana dalam Lisanul ‘Arob al-Qomus adalah sebuah generasi di India yang diarabkan dari kata Jatta, dan dalam an-Nihayah “az-Zuth” adalah salah satu jenis dari bangsa Sudan dan India. (2) al-Awashim minal Qowashim oleh Ibnul-Arobi hlm. 63, al-Bidayah wan Nihayah oleh Ibnu Katsir 6/305 Sumber: http://almawaddah.wordpress.com/2008/12/31/garis-sunnah/