Oleh: Ustadz Abu Hafshoh as-Salafi

Agama Islam sebagai manhaj hidup yang kamil mutakamil (sempurna) mengatur dan membimbing untuk menuju kesempurnaan agar tercapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Islam memberi bimbingan yang berharga kepada orang tua—khususnya—tentang apa yang harus mereka lakukan demi kemaslahatan anak-anak mereka sejak di alam rahim.

 

Terlebih lagi jika mereka mengingat hadits Rosululloh seperti sabdanya tentang janin setelah ditiupkan roh di perut ibunya lalu ditulis baginya rezeki, amal, dan celaka atau bahagia (lihat HR. Bukhori 6594 Muslim 2643). Maka orang tua semakin bersemangat keras untuk mengusahakan sebab-sebab tercapainya kebahagiaan anak mereka, karena Alloh tidak menjadikan kebahagiaan dan kebinasaan kecuali menjadikan pula sebab-sebab yang menuju kepada keduanya.

Kisah orang-orang sholih dahulu sangat banyak yang menunjukkan betapa besar perhatian mereka dalam masalah ini. Alloh mengabadikan kisah-kisah mereka dalam al-Qur’an karena di dalamnya terdapat ibroh yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang datang sesudah mereka. Sebagai contoh, keluarga Imron yang sholih. Isterinya yang sholihah mengandung seorang bayi, ia sangat berharap kepada Alloh kebahagiaan apabila anak yang dikandungnya lahir sebagai anak laki-laki maka ia akan mempersembahkannya kepada Alloh untuk menjadi pelayan Baitul Maqdis, karena itu ia bernadzar kepada Alloh.

Ketika isteri Imron berkata:

“Ya Robbku, sesungguhnya aku menadzarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang sholih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nadzar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imron [3]: 35)

Ini adalah ilmu yang sangat bermanfaat bagi pelaku tarbiyah, terutama bapak ibu, betapa pentingnya tarbiyah ibu dalam kandungan dan betapa besarnya pengaruh positif dari kesholihan bapak dan ibu terhadap bayi yang dikandung sebelum lahir ke alam dunia. Isteri Imron—yang berasal dari keluarga yang mulia pilihan Alloh, bersama keluarga Ibrohim, Nuh, dan Adam—sangat nampak dari kisah ini bagaimana ia melakukan sebab-sebab yang baik, dalam mengharapkan keturunan yang sholih. Dia banyak berdo’a, ikhlas, rajin beribadah, dan merendahkan diri kepada Alloh Ta’ala. Oleh karena itu, Alloh mengabulkan do’anya. Firman Alloh:

Maka Robbnya menerimanya (sebagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Alloh menjadikan Zakaria pemeliharanya…. (QS. Ali Imron [3]: 37)

Maka, dari barokah kesholihan wanita mulia ini lahirlah Maryam ash-Shiddiqoh. Kesholihan ibu yang mulia ini terus membuahkan hasil yang penuh barokah. Dari rahim Maryam lahirlah Nabi Isa Kalimatulloh. firman Alloh:

(Ingatlah), ketika malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Alloh menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya al-Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Alloh). (QS. Ali Imron [3]: 45)

Maryam shiddiqoh, afifah, sholihah, dan ahli ibadah bersama Nabi Zakaria dengan kesholihannya, sangat layak untuk mendapat barokah langit dan bumi yang melimpah untuknya. Bagi orang yang mentadabburi ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Rosululloh tentang barokah, taqwa, dan amal sholih akan mendapati keajaiban yang akal manusia tidak sanggup memikirkannya. Lihatlah firman Alloh (yang artinya):

Setiap kali Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrob, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: “Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh makanan ini?” Maryam menjawab: “Makanan ini dari sisi Alloh. Sesungguhnya Alloh memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (QS. Ali Imron [3]: 37)

Dan pengaruh positif yang lain dari tarbiyah yang baik adalah setelah Alloh menyebutkan nabi-nabi yang dipilih dan keluarga orang-orang sholih yang dipilih-Nya, kata Alloh:

Sebagai satu keturunan dari yang sebagiannya keturunan dari yang lain…. (QS. Ali Imron [3]: 34)

Berkata Syaikh Abdurrohman as-Sa’di: “Yaitu terjadi kecocokan dan kesamaan antara mereka dalam ciptaan dan akhlaq yang mulia, artinya anak-anak keturunan mereka mengikuti bapak-bapak mereka, sebagaimana dalam ayat (yang artinya):

Dan Kami lebihkan pula derajat sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka untuk menjadi nabi-nabi dan rosul-rosul, dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. al-An’am [6]: 87).”

Ini dari umat-umat dahulu. Adapun dari umat Rosululloh sangat banyak. Misalnya, kisah Ummu Sulaim dengan suaminya, Abu Tholhah, yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Anas bin Malik , ia berkata:
Anak Abu Tholhah sakit, lalu Abu Tholhah keluar ke masjid dan anak tersebut meninggal dunia. Tatkala kembali ke rumah, ia bertanya: “Bagaimana keadaan anakku?” Jawab Ummu Sulaim: “Dia sekarang lebih tenang dari sebelumnya.” Kemudian Ummu Sulaim menyajikan makan malam untuknya dan ia makan malam lalu menggaulinya. Setelah selesai hajatnya, berkata Ummu Sulaim: “Makamkanlah anakmu (wahai Abu Tholhah).” Tatkala pagi hari ia pergi menemui Rosululloh, dan mengabarkan kepada beliau kejadian itu, maka kata Rosululloh : “Apakah kalian tadi malam bergaul?” Jawab Abu Tholhah: “Ya.” Maka kata Rosululloh : “Ya Alloh, berkahi mereka dalam hubungan mereka tadi malam.” Lalu Ummu Sulaim melahirkan seorang anak laki-laki. Abu Tholhah mengatakan kepadaku (Anas): “Bawalah bayi ini kepada Rosululloh.” Maka Anas membawanya kepada Rosululloh dengan beberapa buah kurma, lalu anak itu diambil oleh Rosululloh dan beliau bertanya, apakah ia membawa sesuatu? Jawab Anas: “Ya, beberapa kurma.” Maka Rosululloh mengambil kurma tersebut dan mengunyahnya lalu memasukkannya ke mulut bayi tersebut untuk mentahniknya dan menamainya Abdulloh. (HR. Bukhori: 5470 dan Muslim: 2144)

Syahid yang kita ambil dari kisah ini adalah perkataan Rosululloh:
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا فِيْ لَيْلَتِهِمَا.

“Ya Alloh, berkahi keduanya dalam hubungan mereka tadi malam.”

Ini menunjukkan begitu besar perhatian Rosululloh terhadap tarbiyah anak yang ditujukan pada Ummu Sulaim dan umatnya sejak anak mulai dari setetes air dalam rahim ibunya.

Petunjuk Rosululloh dalam menggauli isteri yaitu do’a (yang artinya): “Dengan nama Alloh. Ya Alloh, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak yang Engkau karuniakan kepada kami.” (HR. Bukhori: 5165).

Karena kata Rosululloh di akhir hadits: “Apabila Alloh mentaqdirkan lahirnya anak dari pergaulan tersebut maka tidaklah akan disentuh oleh setan karena setiap anak yang lahir pasti menangis karena tusukan setan.”

Berkata Imam Nawawi: “Dalam kisah ini ditunjukkan keutamaan Ummu Sulaim, di antaranya: besarnya kesabaran Ummu Sulaim, betapa ridho (rela)nya dia terhadap taqdir Alloh, dan jernihnya akalnya tatkala dia merahasiakan kematian anaknya pada suaminya di awal malam agar suaminya tenang, tenteram, tanpa rasa sedih. (Ummu Sulaim) menyajikan makan malam lalu berdandan secantik-cantiknya dengan harapan agar suaminya menggaulinya hingga terpenuhi keinginannya.” (Syarh Muslim 14/124)

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar: “Yang mendorong Ummu Sulaim untuk melakukan ini semua adalah mubalaghoh (bersungguh-sungguh) dalam bersabar dan pasrah kepada qodho Alloh dan mengharap kepada-Nya agar menggantikannya dari apa yang telah luput. Sebab jika ia memberi tahu Abu Tholhah tentang kematian anaknya pada saat itu juga maka akan menyibukkannya dengan kesedihan dan akhirnya tidak terpenuhi apa yang ia inginkan (yaitu keinginan untuk hamil agar Alloh menggantikan anaknya yang meninggal tersebut). Maka tatkala Alloh mengetahui keikhlasan niatnya, Alloh mengabulkan harapannya dan memperbaiki anak keturunannya.” (Fathul Bari 3/219)

Maka dari barokah do’a Rosululloh dan ijabah dari Alloh, ia (Ummu Sulaim) melahirkan anak yang sholih bernama Abdulloh dan dari Abdulloh lahir anak-anak sholih, ulama, dan ahli al-Qur’an. (Lihat Syarh Muslim 14/124)

Sungguh, alangkah menakjubkan hikmah ilahiyyah yang menghubungkan antara kesholihan bapak ibu dengan anaknya selagi di alam kandungan. Karena itu, sangatlah patut bagi para orang tua, khususnya para ibu selagi dalam masa hamil, hendaknya mereka banyak bersabar dari segala musibah, baik sakit, kekurangan harta, kematian anak atau keluarga, dan lain-lain. Hendaknya mereka banyak beramal sholih, berdo’a, berdzikir, tilawah (membaca) al-Qur’an, tholabul ilmi (menuntut ilmu syar’i), shodaqoh, dan amalan-amalan sunnah dengan ikhlas, tawakkal, penuh pengharapan kepada-Nya akan lahirnya seorang anak yang sholih. Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dan kebalikannya, bahwa kecenderungan seorang ibu yang sedang hamil kepada kebatilan, senang dengan tontonan-tontonan batil, pendengaran batil, dan lalai dalam hukum-hukum Alloh dan rosul-Nya akan sangat berpengaruh negatif bagi bayi yang ada dalam kandungannya.

Fakta dan ilmu kedokteran membuktikan bahwa wanita yang hamil yang banyak tingkahnya, bayi yang dikandungnya akan ikut bertingkah banyak. Sedang wanita yang hamil yang banyak diam dan tenang, bayinya ikut tenang tidak banyak bertingkah. Ini adalah hubungan antara ibu dengan bayi yang dikandungnya secara jasmani yang tentunya hubungan keduanya secara rohani demikian juga, bahkan lebih, karena roh lebih berpengaruh terhadap jasad ketimbang sebaliknya.

Sesungguhnya Sahl at-Tusturi telah mentarbiyah anak-anaknya semenjak masih dalam sulbinya, maka ia selalu beramal sholih dengan harapan agar Alloh memberikan kemuliaan kepadanya dengan anak yang sholih seraya berkata: “Sesungguhnya aku memegang janji Alloh yang diambil oleh Alloh kepadaku sejak di alam arwah dan sesungguhnya aku memelihara anak-anakku mulai saat itu hingga mereka dikeluarkan oleh Alloh ke alam dunia.”
Ini adalah dalil tentang perhatian besar kaum salaf terhadap anak keturunan mereka. Semoga Alloh memberi rezeki kepada kita semua anak-anak yang sholih. (Lihat Manhaj Tarbiyah Nabawiyyah: 53)
Perhatikan, betapa besar pengaruh kesholihan orang tua terhadap anak keturunan mereka, sampai-sampai sejak mereka belum lahir ke dunia. Ini adalah motivasi besar agar seseorang selalu memperhatikan masalah ini. Nabiyyulloh al-Khidhir membangun tembok secara sukarela bersama Nabiyyulloh Musa dan keduanya tidak meminta upah.

Tatkala Nabi Musa berkata kepadanya:

“Seandainya engkau mengambil upah dari pekerjaan ini”, beliau (Khidhir) menjawab: “Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua anak yatim di kota itu dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua sedang ayah mereka adalah seorang yang sholih.” (Lihat QS. al-Kahfi [18]: 82)

Ibnu Katsir berkata: “Ini adalah dalil bahwa orang yang sholih dijaga keturunannya oleh Alloh dan barokah ibadahnya meliputi mereka di dunia dan akhirat dengan syafa’atnya buat mereka dan Alloh mengangkat derajat mereka setinggi-tingginya di surga sehingga ia bertambah kebagiaannya sebagaimana hal ini diterangkan dalam al-Qur’an dan sunnah. Berkata Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa kedua anak yatim tersebut dijaga karena kesholihan bapak mereka tanpa menyebut kesholihan mereka sedangkan bapak mereka yang sholih adalah kakek mereka yang ketujuh, Wallohu A’lam.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/94)

Oleh karena untuk menjaga kemaslahatan tarbiyah janin yang ada dalam kandungan, maka syari’at memberi keringanan bagi wanita hamil untuk tidak melakukan puasa pada bulan Romadhon apabila ia khawatir terhadap janin yang dikandungnya. Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Apabila wanita hamil khawatir terhadap kemaslahatan dirinya atau bayi yang dikandungnya di bulan Romadhon makan ia berbuka dan memberi makan setiap hari seorang miskin dan tidak mengqodho puasa.” (Baihaqi 4/230 dengan sanad yang kuat).

Billahit taufiq.

http://almawaddah.wordpress.com/2008/11/23/mentarbiyah-anak-dalam-kandungan/#more-113