Nasehat di Tengah Malam

Dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha –salah seorang isteri Nabi-, beliau berkata:
Suatu malam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun dari tidur -dalam keadaan terkejut- lalu berkata, “Subhanallah! Fitnah apa yang diturunkan pada malam ini, dan perbendaharaan apakah yang sedang dibukakan. Bangunkanlah para wanita yang tinggal di bilik-bilik itu (isteri-isteri beliau) -untuk mendirikan sholat-. Betapa banyak wanita yang berpakaian di dunia namun telanjang di akherat.” (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [1/255])
Hadits yang mulia ini banyak mengandung pelajaran, di antaranya:
  1. Hadits ini menunjukkan bahwa yang dimaksud larangan berbicara (ngobrol) selepas sholat Isyak -sebagaimana dalam hadits lainnya- adalah pembicaraan yang tidak dalam kebaikan. Dan hadits ini juga menunjukkan bolehnya melakukan ta’lim (pelajaran/kajian) atau mau’izhah (nasehat) di waktu malam (lihat Fath al-Bari[1/255]). Oleh sebab itu suatu ketika Umar bersama dengan Abu Musa al-Asy’ari pernah berbincang-bincang seputar permasalahan agama hingga larut malam, sehingga Abu Musa mengatakan, “Ini adalah saat sholat malam.” Maka Umar pun menjawab,“Sesungguhnya kita juga sedang sholat.” (dinukil dari Fath al-Bari [1/259])
  2. Hadits ini menunjukkan bolehnya mengucapkan ‘Subhanallah’ ketika merasa heran/takjub kepada sesuatu, entah sesuatu yang diherankan itu dominan membawa dampak buruk (semacam fitnah) ataupun yang tidak selalu memberikan dampak buruk (semacam perbendaharaan/harta) (lihat Fath al-Bari [1/256], lihat juga Shahih Bukhari, Kitab al-Adab, hal. 1272)
  3. Dianjurkan untuk berdzikir kepada Allah setelah bangun dari tidur (lihat Fath al-Bari[1/256])
  4. Dianjurkan bagi seorang suami untuk membangunkan isterinya di malam hari dalam rangka menunaikan ibadah, terlebih lagi di saat melihat atau mengalami kejadian yang menakjubkan (lihat Fath al-Bari [1/256])
  5. Dianjurkan mengerjakan sholat malam (lihat Shahih Bukhari, Kitab at-Tahajjud, hal. 234)
  6. Dianjurkan untuk bersegera mengerjakan sholat -sunnah- di saat-saat muncul kekhawatiran terhadap suatu keburukan yang akan menimpa (lihat Fath al-Bari[1/257])
  7. Dianjurkan bertasbih -membaca subhanallah- ketika menjumpai keadaan yang mengerikan atau menimbulkan kegoncangan (lihat Fath al-Bari [1/257])
  8. Semestinya seorang yang berilmu memberikan peringatan kepada orang-orang yang belajar kepadanya dari segala kondisi yang akan mereka hadapi dan pasti akan terjadi. Kemudian, ia semestinya juga membimbing mereka bagaimana cara mengatasi perkara yang membahayakan tersebut (lihat Fath al-Bari [1/257])
  9. Hadits ini menunjukkan salah satu bukti kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana beliau bisa mengetahui turunnya fitnah dan terbukanya perbendaharaan di malam tersebut (lihat Shahih Bukhari, Kitab al-Manaqib, hal. 752)
  10. Hadits ini menunjukkan betapa melekat ingatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammengenai Allah ta’ala serta kampung akherat, dan hal itu mencerminkan ketekunan beliau dalam berdzikir kepada-Nya
  11. Tidak semestinya kenikmatan dunia ini melalaikan manusia dari beribadah kepada Rabbnya
  12. Tolong menolong dalam kebaikan dan takwa, terutama di dalam lingkungan internal keluarga sangat dibutuhkan demi terwujudnya keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah
  13. Hadits ini mengisyaratkan bolehnya berpoligami dan hendaknya sang suami berlaku adil kepada isteri-isterinya, di antaranya adalah dalam hal tempat tinggal dan waktu bermalam
  14. Kedudukan sebagai isteri Nabi tidak boleh melalaikan kaum wanita dari beribadah kepada Allah (lihat Fath al-Bari [1/256]). Kalau isteri Nabi saja demikian, maka bagaimana lagi dengan selain mereka, seperti isteri pak kyai, ustadz, ataupun da’i…