بسم الله الرحمن الرحيم و الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Seiring terbukanya sarana informasi dan komunikasi yang sangat mudah dan cepat, bermunculan pula tulisan-tulisan yang berkaitan dengan agama, jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan agama, artikel-artikel yang berkaitan tentang agama, buku bermacam-macam membicarakan permasalahan-permasalahan agama yang bermacam-macam.  Bahkan, kadang ada pertanyaan yang tidak pantas menjawabnya kecuali seorang alim dengan Al Quran beserta tafsirnya, hadits beserta kaidah dan penjelasannya, fikih beserta kaidah dan ushulnya dan bahasa Arab beserta kaidah-kaidahnya, e…ternyata dijawab oleh orang bodoh dengan semuanya yang disebutkan tadi.

Tidak sedikit, ada yang mengatakan, “Ini halal, itu haram, ini mubah, itu dianjurkan, ini makruh, ini wajib, itu sunnah, ini syirik, itu bid’ah, tanpa ada dalil satupun dari Al Quran atau As Sunnah berdasarkan pemahaman para shahabat radhiyallahu ‘anhum.

Semuanya memberi fatwa, semuanya berbicara tentang sebuah permasalahan agama, yang kalau seandainya Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma disodorkan dengan permasalahan agama yang sama, niscaya akan mengumpulkan seluruh kaum Anshar dan kaum Muhajirin radhiyallahu ‘anhum, meminta pendapat mereka dalam menjawab permasalahan tersebut. Kadang ironis, akibat canggihnya teknologi, yang sebenarnya idealnya menjadi sarana agar lebih beriman dan bertakwa kepada Allah Ta’ala, e…malah dijadikan ajang untuk bertanya kepada siapa saja tanpa melihat siapa yang ditanya atau untuk tampil berharap dijadikan Ahli Fatwa seluruh dunia. Wallahul musta’an.

Tulisan di bawah ini hanya untuk mengingatkan diri pribadi dan kaum muslim sekalian.

Semoga bermanfaat:

1. Tugasnya orang bodoh tentang agama bertanya dan tugasnya orang alim tentang agama menjawab. Allah Ta’ala befirman:

{وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ} [النحل: 43] Artinya:

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. QS. An Nahl: 43.

Berkata Syeikh Al ‘Allamah Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah (w: 1376H):

“Keumuman ayat ini di dalamnya terdapat sanjungan terhadap ulama dan sesungguhnya tingkatan ilmu yang tertinggi adalah pengetahuan akan Kitabullah (Al Quran) yang diturunkan oleh-Nya. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan siapa yang tidak mengetahui, untuk kembali kepada mereka (ulama) di seluruh perkara. Di dalam ayat ini, mencakup penetapan dan rekomendasi bagi ulama, karena diperintahkan untuk bertanya kepada mereka, dan hal tersebut mengeluarkan orang bodoh untuk diikuti, maka ayat ini menunjukkan bahwa Allah telah mengamanati mereka atas wahyu dan Kitab-Nya, dan mereka (ulama) diperintahkan untuk mensucikan diri mereka dan bersifat dengan sifat sempurna”.

Lihat Taisir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir Al Kalam Al Mannan, karya Syeikh Al Allamah Abdurrahman bin Nashir As Sa’di. (1/572). Jalaluddin As Suyuthi rahimahullah (w: 911) menyebutkan sebuah riwayat:

لا ينبغى للعالم أن يسكت عن علمه ولا ينبغى للجاهل أن يسكت عن جهله قال الله { فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون } [النحل : 43]

Artinya: “Tidak pantas bagi seorang alim untuk diam atas ilmunya dan tidak pantas untuk orang bodoh untuk diam atas kebodohannya, Allah Ta’ala berfirman: { فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ} [النحل: 43] Artinya: “… maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. QS. An Nahl: 43.  Diriwayatkan oleh Ath Thabrani rahimahullah (w: 360H) di dalam Al Mu’jam Al Awsath (no. 5365) dari Jabir radhiyallahu ‘anhu.

Berkata Al Haitsami rahimahullah (w: 807):

“Di dalam (sanad) hadits ini terdapat perawi Muhammad bin Ahmad, dan ulama telah bersepakat akan kelemahannya”. Diriwayatkan juga oleh Ad Dailami (no. 7784).

Lihat Jami’ Al Ahadits, karya Jalaluddin As Suyuthi. 2. Jangan sok tahu tentang Agama, sangat berbahaya!

Saya mengajak diri saya dan kaum muslim untuk memperhatikan ancaman yang begitu keras, bagi orang yang membuat kedustaan terhadap Allah Ta’ala, yaitu dengan berbicara tentang tentang Allah atau agama-Nya tanpa ilmu atau dasar pengetahuan.

{وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ} [الأنعام: 93]

Artinya: “Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah”. Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata):

“Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”. QS. Al An’am: 93. Imam Al Qurthubi rahimahullah (w: 671H) berkata –ketika mengomentari ayat di atas-: “Dan termasuk contoh ini adalah orang yang menolak fikih dan sunnah-sunnah serta apa-apa yang dijalani oleh para salaf (orang terdahulu) berupa sunnah-sunnah, lantas ia berkata: “Terbesit di dalam benak saya hal ini”, atau dengan mengatakan: “Perasaan saya berbicara seperti ini”, lalu mereka menghukumi dengan apa yang terbesit di dalam hati mereka atau apa yang mereka rasakan dari perasaan mereka. Mereka mengaku bahwa hal tersebut dikarenakan kebersihannya (hati mereka) dari kotoran dan terlepasnya dari perubahan-perubahan, lalu nampaklah bagi mereka ilmu (Al ‘Ulum Al Ilahiyyah) dan hakikat ketuhanan (Al Haqaiq Ar Rabbaniyyah), akhirnya mereka mengetahui rahasia-rahasia yang menyeluruh dan mengetahui hukum-hukum cabang, kemudian meninggalkan hukum-hukum syariat yang menyeluruh, seraya mengatakan:

“Ini adalah hukum-hukum syariatnya orang awam dan dikhususkan hanya untuk orang bodoh dan awam saja, sedangkan para wali dan orang khusus, mereka tidak memerlukan dalil-dalil itu”. Lihat Al Jami’ Li Ahkam Al Quran, karya Al Quthubi (7/41).

Syeikh Al Allamah Abdurrahman bin Nashir As Sa’di (w: 1376H) rahimahullah berkata tentang Firman Allah Ta’ala di atas:

“Tidak ada seorangpun yang lebih besar kezahlimannya dan lebih besar kesalahannya, daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah, yaitu dengan menyandarkan kepada Allah sebuah perkataan atau ucapan yang mana Allah Ta’ala berlepas darinya. Dan orang ini adalah makhluk yang paling zhalim karena di dalamnya terdapat kedustaan, yaitu merubah ajaran agama dari dasar dan cabangnya, serta menisbatkan hal tersebut kepada Allah termasuk kerusakan yang sangat besar”. Lihat Taisir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir Al Kalam Al Mannan, karya Syeikh Al ‘Allamah Abdurrahman bin Nashir As Sa’di. (1/264). Mari perhatikan juga, firman Allah Ta’ala: {وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ (116) مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (117)} [النحل: 116، 117]. Artinya: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung”. “(Itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan bagi mereka azab yang pedih”. QS. An Nahl: 116-117. Ibnu Katsir rahimahullah (w: 774H) berkata: “Allah Ta’ala telah melarang untuk mengikuti jalannya kaum musyrik, yang telah menghalalkan dan mengharamkan hanya dengan sesuatu yang telah mereka sifati dan terbiasa dengannya tentang nama-nama berdasarkan pendapat-pendapat mereka. Dan termasuk dalam hal ini, seluruh orang yang membuat sesuatu yang baru yang tidak mempunyai dasar syariat atau yang telah menghalalkan sesuatu dari apa yang telah diharamkan oleh Allah atau mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah, hanya berdasarkan pendapat dan hawa nafsunya. Kemudian Allah mengancam akan hal tersebut,

Allah berfirman: إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung”.  Maksudnya; (tidak beruntung) di dunia dan di akhirat, adapun dunia ancamannya adalah kesenangan yang sedikit, sedangkan di akhirat siksa yang pedih”. Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim, karya Ibnu Katsir (2/590). Malaikat Jibril ‘alaihissalam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saja mengatakan: “Aku tidak tahu”.  Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita:  َأنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْبُلْدَانِ شَرٌّ قَالَ فَقَالَ « لاَ أَدْرِى ». فَلَمَّا أَتَاهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ « يَا جِبْرِيلُ أَىُّ الْبُلْدَانِ شَرٌّ ». قَالَ لاَ أَدْرِى حَتَّى أَسْأَلَ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ. فَانْطَلَقَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَمْكُثَ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّكَ سَأَلْتَنِى أَىُّ الْبُلْدَانِ شَرٌّ فَقُلْتُ لاَ أَدْرِى وَإِنِّى سَأَلْتُ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ أَىُّ الْبُلْدَانِ شَرٌّ فَقَالَ أَسْوَاقُهَا.

“Seseorang mendatangi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya: “Wahai Rasulullah, daerah manakah yang paing buruk?”, beliau menjawab: “Aku tidak tahu”, ketika Jibril ‘alaihissalam mendatangi beliau, beliau bertanya: “Wahai Jibril, daerah manakah yng paling buruk?”, Jibril menjawab: “Aku tidak tahu, tunggu sampai aku bertanya kepada Rabbku Azza wa Jalla”, lalu Jibril ‘alahissalam pun pergi, kemudian berdiam sesuai kehendak Allah Ta’ala, kemudian Jibril ‘alahissalam datang dan berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau bertanya kepadaku tentang daerah manakah yang paling buruk? dan aku jawab; aku tidak tahu, dan sungguh aku telah bertanya kepada Rabbku Azza wa Jalla tentang daerah mana yang paling buruk?”, Dia (Allah Azza wa Jalla) menjawab: “Pasar-pasarnya”.

HR. Ahmad dan Al Albani berkata di dalam kitab Sifat Al Fatwa wa Al Mufti wa Al Mustafti (hal. 9):

“Dan Hadits ini telah diriwayatkan oleh Al Hakim dengan sanad yang baik”. Lihat kitab Afat Al ‘Ilm, hal. 142, karya Syeikh Muhammad bin Sa’id bin Rislan hafizhahullah. 3. Jangan jadi pencetus, pelopor, penyebar kesesatan khususya di dalam perkara agama, sangat sangat berbahaya! Perhatian! untuk diri saya pribadi dan kaum muslim,  Umur kita terbatas…, Hidup cuma sekali…,  Setelah mati yang ada hanya pertanggung jawaban di hadapan Allah Ta’ala..,  maka wahai kawan…jangan jadi pelopor, pencetus, penyebar kesesatan, khususnya di dalam perkara agama…,  inilah ancaman dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

« مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا ».

Artinya: “Barangsiapa yang mengajak kepada sebuah petunjuk maka baginya pahala seperti pahala-pahala orang yang mengikutinya, tidak mengurangi pahala tersebut (yang diberikan kepada pengajak sebuah petunjuk) dari pahala-pahala mereka sedikitpun dan barangsiapa yang mengajak kepada sebuah kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosanya orang yang mengikutinya, tidak mengurangi dosa tersebut (yang dikenakan kepada pengajak sebuah kesesatan) dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. HR. Bukhari dan Muslim.

Wallahu a’lam. Selesai ditulis oleh Ahmad Zainuddin Selasa, 7 Shafar 1432H.  Di tengah dinginnya kota Dammam KSA.

Iklan