MUQODDIMAH
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Alloh ‘Azza wa jalla yang telah menjadikan untuk umat ini mimbar-mimbar petunjuk dan teladan yang sholih agar diikuti oleh orang-orang yang terdahulu dan belakangan.
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا
“Sesungguhnya Ibrohim adalah seorang imam yang patuh kepada Alloh dan lurus (tidak berbuat syirik).” [QS. An-Nahl: 120]
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh telah ada teladan yang baik bagi kalian pada diri rosululloh.” [QS. Al-Ahzaab: 21]
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ وَالذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
“Muhammad adalah utusan Alloh, dan orang-orang yang bersamanya (bersikap) keras terhadap orang-orang kafir dan penyayang terhadap sesama mereka.” [QS. Al-Fath: 29]
Maka segala puji bagi Alloh yang telah menegakkan hujjah kepada kita dan menjadikan jalan ini jelas tidak ada kerancuan padanya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak untuk disembah melainkan Alloh semata, tidak ada sekutu baginya. Dia adalah sesembahan orang-orang terdahulu dan belakangan, Dia adalah sesembahan bagi yang ada di langit dan di bumi. Dia mengetahui rahasiamu dan keterusteranganmu, dan Dia mengetahui apa yang kalian usahakan.
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Alloh dan utusan-Nya, manusia yang Dia pilih dan kekasih-Nya. Beliau telah menyampaikan (risalah), memberikan kabar gembira dan peringatan. Beliau telah meninggalkan kita di atas jalan yang putih bersih, malamnya seperti siangnya, tidaklah menyimpang darinya sepeninggal beliaushollallohu ‘alaihi wa sallam melainkan orang yang binasa. Maka sekali lagi, semoga Alloh memberikan sholawat dan salam kepada nabi kita Muhammad. Semoga Alloh memberikan sholawat kepada nabi kita Muhammad, setiap kali orang-orang bersholawat kepada beliau, dan setiap kali orang-orang yang lalai tidak bersholawat kepada beliau. Dan juga semoga Alloh memberikan sholawat dan salam kepada keluarga dan sahabat beliau serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya sampai hari kiamat.
Amma ba’du.
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Alloh dengan sebenar-benar takwa.
Wahai hamba-hamba Alloh, sesungguhnya Alloh Jalla Jalaaluhu telah memilih di antara apa yang Dia pilih, orang-orang yang sholih untuk bersahabat dengan Muhammad ‘alaihish sholaatu was salaam. Dia telah memilih mereka, sedangkan Dia Jalla wa ‘Alaa memilih apa yang Dia pilih karena keutamaan dari-Nya dan karena suatu hikmah.
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ
“Dan Robbmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki, tidak ada pilihan bagi mereka.” [QS. Al-Qoshosh: 68]
Dan para sahabat rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah suatu madrosah yang agung, dimana orang-orang setelah mereka terdidik pada madrosah tersebut. Para tabi’in terdidik padanya, dimana mereka melihat perbuatan para sahabat, mengambil perkataan mereka dan saling mempelajarinya. Begitu pula para ulama yang sholih setelah mereka terdidik padanya, dimana mereka memperhatikan perkataan mereka (para sahabat), mereka menjadikannya sebagai pelajaran-pelajaran, mereka memperhatikan dan merenunginya. Dan bukanlah hal yang aneh jika keadaannya demikian, karena mereka adalah para sahabat yang telah Alloh ridhoi.
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
“Sungguh Alloh telah meridhoi kaum mukminin (yakni para sahabat), ketika mereka membaiatmu di bawah pohon.” [QS. Al-Fath: 18]
Di antara mereka (para sahabat) ada orang-orang muhajirin dan orang-orang anshor. Orang-orang anshor adalah mereka yang menjadi penolong bagi utusan Alloh Jalla wa ‘Alaa. Mereka menolong agama beliau tatkala orang-orang Quraisy dan kabilah-kabilah yang ada di sekitar Makkah meninggalkan beliau. Lalu mereka menyambut agama Alloh, menolongnya dengan lisan-lisan, perbuatan, pedang dan ruh-ruh mereka. Maka Alloh pun meridhoi mereka semua sebagai balasan atas apa yang telah mereka keluarkan, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan dan sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka sampaikan agama Alloh ini kepada umat ini dan seluruh manusia.
Dan di antara mereka ada seorang sahabat yang disifati oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam sebagai hakiim (orang yang bijaksana) dari umat ini, dalam suatu hadits yang diriwayatkan dari beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam secara mursal (terputus sanadnya antara tabi’in dengan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam). Beliaushollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hakiim (orang yang bijaksana) di kalangan umat ini adalah Abu Darda.”
Abu Darda adalah seorang sahabat dari kaum Anshor dari suku Khozroj. Nama beliau adalah Umair bin Zaid bin Qois, dan ada yang mengatakan Uwaimir bin Amir. Beliau adalah seorang hamba yang sholih dan termasuk salah satu tokoh ahli qiro’ah. Di antara para sahabat, tidak ada yang menghafal al-Qur’an secara sempurna pada masa hidup Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam kecuali beberapa orang saja, termasuk di antaranya adalah Abu Darda, semoga Alloh meridhoi beliau dan menjadikan beliau ridho.
Abu Darda masuk islam pada waktu perang badr di Madinah. Beliau mengikuti perang uhud dan berbagai peperangan lain setelahnya bersama Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Tatkala Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallammelihat keadaan beliau pada perang uhud dan bagaimana pembelaan beliau terhadap Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika manusia bercerai berai, beliau berkata, “sebaik-baik penunggang kuda adalah Uwaimir.”
Abu Darda adalah bagaikan gudangnya hikmah dan ilmu, oleh karenanya Umar bin Khotthob rodhiyallohu ‘anhumengangkatnya sebagai qodhi (hakim yang memutuskan perkara) di negeri Damaskus.
Dan beliau rodhiyallohu ‘anhu wafat di negeri Damaskus pada masa pemerintahan Utsman rodhiyallohu ‘anhu.
Beliau juga memiliki para sahabat. Beliau memberikan nasehat kepada orang banyak dengan perkataan beliau sehingga orang-orang pun mendapatkan pengaruh. Beliau juga memberikan nasehat kepada mereka dengan perbuatan beliau, dengan perbuatan yang kokoh/tinggi. Maka di dalam memberikan nasehat dan petunjuk, beliau menggabungkan antara perkataan dan perbuatan, sehingga manusia pun mendapatkan pengaruh dengan perbuatan beliau juga dengan perkataan beliau.
Dan termasuk perkara yang selayaknya kita lakukan wahai kaum mukminin, kita memperhatikan perkataan-perkataan para sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam agar kita melihat bagaimana mereka menyampaikan agama islam ini kepada manusia setelah mereka dengan perkataan dan perbuatan, sehingga sampai pada zaman kita sekarang ini. Dan segala kebaikan yang diharapkan ada pada manusia, maka hanya akan terwujud dengan melihat, memperhatikan keadaan para sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam,mempelajari perkataan-perkataan mereka dan memperhatikan amalan-amalan mereka. Karena dengan memperhatikan amalan-amalan mereka, akan menjadikan seseorang memiliki himmah (keinginan dan semangat) yang kuat di dalam mencari kebenaran, berjihad, bersungguh-sungguh dalam beramal dan dalam beramal. Dan dengan memperhatikan perkataan-perkataan mereka, seseorang akan berada pada madrosah dan pendidikan yang tidak akan didapati jika tidak menyambut mereka para sahabat rodhiyallohu ‘anhum, mempelajari dan merenungi perkataan-perkataan mereka.
Abu Darda rodhiyallohu ‘anhu adalah seorang yang memiliki hikmah yang menakjubkan dan mendalam. Oleh karena itu, Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhuma berkata kepada para sahabatnya, “Sampaikanlah kepada kami (berita) dari dua orang yang berakal.” Lalu mereka menjawab, “Wahai Ibnu Umar, siapakah dua orang yang berakal?” Ibnu Umar berkata, “Mu’adz dan Abu Darda.”
Mu’adz, kedudukannya dalam islam dan pengetahuannya tentang halal dan harom telah kalian ketahui.
Adapun Abu Darda, maka perkataan dan hadits-hadits beliau dalam masalah tarbiyah (pendidikan) dan perbaikan jiwa dan masyarakat banyak disebutkan dalam kitab-kitab para ulama. Dan kita akan mengambil sebagian di antaranya sehingga bisa menjadi petunjuk kita kepada yang lainnya, semoga kita bisa mengambil pelajaran darinya sebagaimana sahabat-sahabat beliau rodhiyallohu ‘anhu.
Sampaikanlah kepada kami (berita) dari dua orang yang berakal.
WASIAT PERTAMA
Abu Darda rodhiyallohu ‘anhu, diantara perkataannya, beliau berkata,
“Carilah ilmu! Jika kalian tidak mampu maka cintailah ahlul ilmi (ulama, orang yang memiliki ilmu), jika kalian tidak bisa mencintai mereka maka janganlah kalian membenci mereka.”
Ini adalah wasiat untuk umat ini seluruhnya. Karena hal yang paling mulia dalam umat ini adalah ilmu. Namun ilmu apa yang dimaksud?
Ilmu yang dimaksud adalah ilmu tentang Alloh Jalla Jalaaluhu, ilmu tentang kitab-Nya dan sunnah rosul-Nyashollallohu ‘alaihi wa sallam. Karena ilmu inilah yang nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam diperintahkan untuk meminta tambahan. Alloh Jalla wa ‘Alaa berfirman kepada nabi-Nya,
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah, wahai Robbku tambahkanlah ilmu kepadaku.” [QS. Thoha: 114]
Para ulama mengatakan, Alloh tidak pernah memerintahkan nabi-Nya untuk meminta tambahan sesuatu kecuali ilmu. Sedangkan para ulama (ahlul ilmi) adalah orang-orang yang ditinggikan derajat mereka. Alloh berfirman,
يَرْفَع اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu, dengan beberapa derajat.” [QS. Al-Mujadilah: 11]
Oleh karenanya, Abu Darda berkata, “Carilah ilmu! Jika kalian tidak mampu…” karena manusia tidak berada pada batasan yang sama untuk menjadi penuntut ilmu dan orang-orang yang mendatanginya.
Jika kalian tidak mampu untuk menuntut ilmu, beliau berkata, “maka cintailah ulama.” Karena kecintaan terhadap ulama akan menjadikan orang yang mencintai bersama dengan orang yang dicintai, dan kecintaan tersebut akan menjadikan dia bertanya dan meneladani perkataan dan perbuatan mereka sehingga dia memiliki hubungan dengan mereka.
Jika kecintaan tersebut tidak terwujud, beliau berkata, “Jika kalian tidak bisa mencintai mereka maka janganlah kalian membenci mereka.” Karena membenci ulama berarti membenci orang-orang pilihan dari kaum mukminin, karena Alloh Jalla wa ‘Alaa telah memerintahkan kita untuk mencintai seluruh orang-orang yang beriman. AllohJalla wa ‘Alaa berfirman,
وَالمُؤْمِنُونَ وَالمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah wali (penolong) bagi sebagian yang lain.” [QS. At-Taubah: 71]
Maksudnya, bahwa sebagian mereka mencintai dan menolong yang lain. Sedangkan orang mukmin yang paling berhak dicintai adalah yang paling memiliki rasa khosy-yah (takut terhadap Alloh) dan yang paling berilmu. Oleh karena itu, Abu Darda berkata, “jika kalian tidak bisa mencintai mereka maka janganlah kalian membenci mereka.”
Dan kejahatan apakah yang engkau lakukan terhadap dirimu – wahai orang yang beriman – jika engkau membenci ahlul ilmi, serta apa yang dimaksud dengan membenci mereka?
Membenci mereka bisa berupa celaan terhadap mereka, kritikan terhadap mereka, atau dengan mencaci maki mereka baik dengan sesuatu yang benar maupun yang batil. Para ulama bukanlah orang-orang yang sempurna dan maksum (bebas dari kesalahan), namun jika engkau melihat kekurangan pada mereka lalu disebarkan kekurangan tersebut di tengah-tengah manusia, maka ini maknanya manusia tidak akan mengambil dari para ulama. Jika manusia sudah meninggalkan para ulama, tidak mau mengambil dari mereka, maka ini maknanya adalah kejahatan terhadap pengambilan syariat. Maka dari mana lagi manusia akan mengambil syariat, jika mereka tidak mengambilnya dari para ulama?!!
Untuk itulah wasiat dari Abu Darda Uwaimir bin Amir rodhiyallohu ‘anhu ini datang. Beliau berkata, “Carilah ilmu! Jika kalian tidak mampu maka cintailah ahlul ilmi (ulama, orang yang memiliki ilmu), jika kalian tidak bisa mencintai mereka maka janganlah kalian membenci mereka.” Agar tetap ada di dalam hati pengagungan terhadap para ulama yang hati-hati mereka dijaga oleh kitabulloh dan ilmu terhadap sunnah nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.
WASIAT KE DUA
Dan di antara perkataan Abu Darda, pada suatu hari beliau berkata kepada para sahabatnya,
“Sesungguhnya aku memerintahkan kalian dengan kebaikan. Dan tidak semua yang aku perintahkan kepada kalian telah aku lakukan, akan tetapi aku mengharapkan pahala dengan memerintahkan kalian.”
Ini merupakan pemahaman yang agung terhadap agama Alloh. Bukanlah karena dia memerintahkan sesuatu namun tidak melaksanakannya, yang hal ini dicela, namun seorang hamba yang beriman di dalam melaksanakan syariat
menggabungkan antara pelaksanaan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. Sedangkan dia wajib memerintahkan kebaikan dan juga wajib melaksanakan kebaikan tersebut. Maka jika dia tidak mendapatkan (melaksanakan) salah satunya, dia tidak boleh meninggalkan yang lainnya.
Oleh karena itu Imam Malik bin Anas rohimahulloh, imam darul hijroh (madinah) mengatakan, “Tidaklah semua perkara yang kami perintahkan kepada kalian telah kami lakukan. Seandainya kami tidak memerintahkan (kebaikan) karena kami tidak melakukannya, niscaya kami tidak memerintahkan kepada kalian kecuali sedikit saja.”
Apakah maknanya bahwa mereka meninggalkan (tidak melaksanakan) perintah dan terjerumus kepada perkara yang harom? Tidak, akan tetapi para ulama dan ahlul jihaad memiliki pengetahuan tentang hukum-hukum sehingga mereka bisa mengurutkan maslahat-maslahat dan menjadikan kebaikan bertingkat-tingkat. Dan tidak selalu demikian setiap orang yang memerintahkan kebaikan (amar ma’ruf) dan mencegah keburukan (nahi mungkar).
Oleh karena itu, Abu Darda berkata, “Sesungguhnya aku memerintahkan kalian dengan kebaikan. Dan tidak semua yang aku perintahkan kepada kalian telah aku lakukan, akan tetapi aku mengharapkan pahala dengan memerintahkan kalian.” Yakni, bahwa beliau memerintahkan perkara-perkara yang mustahab (mandub, sunnah, disukai, tidak wajib). Beliau memerintahkan berbagai kebaikan-kebaikan yang beliau lakukan, namun tidak semua yang beliau perintahkan beliau lakukan, karena beliau telah tersibukkan diri darinya dengan perkara yang lebih penting baginya. Adapun bagi orang lain, maka keadaannya berbeda, bahkan mereka harus diberi perintah dengan hal tersebut. Jika datang kesempatan, sedangkan dia memiliki waktu luang, maka dia dianjurkan kepada perkara yang mustahab dan yang wajib sesuai dengan tingkatan-tingkatannya. Sebagaimana Alloh Jalla wa ‘Alaaberfirman,
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (7) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ
“Dan jika engkau telah selesai (dari suatu pekerjaan yang baik) maka lakukanlah yang lainnya. Dan hanya kepada Robbmu-lah hendaknya engkau berharap.” [QS. Asy-Syarh: 7-8]
Yakni dengan berbagai macam perkara yang wajib dan mustahab.
Sebagian orang tidak memperhatikan pernyataan tersebut dan kaidah syar’i ini. Jika dia berada pada suatu kesalahan dia mengatakan, “Aku tidak memerintahkan kebaikan karena aku tidak melaksanakannya. Dan aku tidak melarang perbuatan buruk karena mungkin aku melakukannya.” Ini adalah suatu kesalahan terhadap syariat ini. Karena engkau wajib memerintahkan kebaikan dan juga wajib melaksankannya. Jika engkau tidak melaksanakan kebaikan maka janganlah engkau meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, engkau wajib melakukan hal ini. Jika engkau meninggalkan yang satu, maka yang satu ini adalah kewajiban, dan yang lain juga wajib. Jika engkau meninggalkan salah satu dari dua kewajiban, maka engkau tidak boleh meninggalkan yang satunya.
WASIAT KE TIGA
Dan di antara perkataan Abu Darda rodhiyallohu ‘anhu, suatu ketika beliau berkata kepada para sahabatnya,
“Berlindunglah kalian kepada Alloh dari kekhusyu’an nifaq.” Mereka bertanya, Wahai Abu Darda, apa yang dimaksud kekhusyu’an nifaq? Beliau menjawab, “Jasad terlihat khusyu’ namun hatinya tidak khusyu’.”
Dan telah shohih dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,
« أَوَّلُ مَا يُسْلَبُ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ الْخُشُوعُ »
“Yang dicabut pertama kali dari umat ini adalah kekhusyu’an.” [Riwayat Ath-Thobroni, dishohihkan Al-Albani dalam Shohih Al-Jami’ush Shoghir nomor: 2569]
Maka engkau melihat orang-orang sholat di masjid, namun hampir-hampir tidak engkau dapati seorang pun yang khusyu’ di antara mereka. Berlindunglah kepada Alloh dari kekhusyu’an nifaq, jasad terlihat khusyu’ dan tenang ketika di dalam sholat, namun hati tidak khusyu’. Ini adalah keadaan orang-orang munafiq, karena mereka sholat bersama kaum muslimin akan tetapi hati mereka tidak khusyu’ kepada Alloh, bahkan mereka riya kepada manusia dan tidak mengingat Alloh kecuali sedikit saja.
Kenapa Abu Darda rodhiyallohu ‘anhu berkata “Berlindunglah kalian kepada Alloh dari kekhusyu’an nifaq”? Hal itu karena beliau hendak menanamkan dalam hati-hati kita agar kita tidak akan menerima dan tidak akan meridhoi hal tersebut. Betapa banyak orang yang tidak mendapati kekhusyu’an dalam hatinya, kekhusyu’an mereka hanya pada badan saja, dan dia mengetahui bahwa hatinya mengajaknya kepada berbagai macam perbuatan dosa besar dan kemungkaran, juga mengajaknya untuk meninggalkan berbagai macam kewajiban. Kemudian Abu Darda berkata kepadanya, berlindunglah kalian kepada Alloh dari kekhusyu’an nifaq. Yakni, jika engkau dalam keadaan seperti ini maka jangan sampai engkau meridhoi dirimu berada dalam keadaan seperti ini, bahkan berlindunglah engkau kepada Alloh, menghadaplah kepada-Nya, berpegang teguhlah kepada-Nya, carilah kelezatan dengan (kekhusyu’an kepada) Nya dan menghadaplah kepada-Nya, agar Dia menghilangkan kekhusyu’an nifaq yang ada dalam hatimu yang pada hakikatnya hati tidaklah khusyu’.
Engkau melihat manusia melakukan sholat, namun yang khusyu’ di antara mereka hanyalah sedikit. Para sahabat rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam melakukan ibadah-ibadah yang barangkali orang-orang setelah mereka lebih banyak melakukannya. Akan tetapi mereka (para sahabat) beribadah dengan hati-hati yang khusyu’.
Oleh karena itu ketika Al-Hasan al-Bashri rohimahulloh ditanya, ‘Mereka para tabi’in, ibadah mereka lebih banyak dibandingkan para sahabat rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, kenapa para sahabat memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari mereka?’ Al-Hasan menjawab, “Dahulu para sahabat melakukan ibadah sedangkan akhirat ada dalam hati-hati mereka. Adapun mereka (para tabi’in), maka mereka beribadah sedangkan dunia ada dalam hati-hati mereka. Maka sangat berbeda antara ini dan itu. Oleh karena itu Abu Darda berkata, Alangkah bagus tidur dan berbukanya orang-orang yang cerdas. Bagaimana mungkin mereka tertipu dengan begadang dan puasanya orang-orang yang dungu. Sungguh, kebaikan sekecil biji sawi yang disertai ketakwaan dan keyakinan lebih agung dan lebih tinggi di sisi Alloh dari pada ibadah sebesar gunung yang dilakukan oleh orang-orang yang tertipu.’”
Maksudnya adalah kekhusyu’an hati. Dan kekhusyu’an hati maknanya adalah ketenangan, ketundukan dan menghadapnya hati kepada Alloh Jalla wa ‘Alaa.
Maka marilah kita berlindung kepada Alloh dari kekhusyu’an nifaq. Wahai Alloh, kami berlindung kepada-Mu dari kekhusyu’an orang-orang munafiq. Wahai Alloh Yang maha mulia, jadikanlah kekhusyu’an kami adalah kekhusyu’an orang-orang yang beriman secara lahir dan batin.
WASIAT KE EMPAT
Di antara perkataan Abu Darda rodhiyallohu ‘anhu, suatu ketika beliau melewati seseorang yang telah berbuat dosa dan disekitarnya orang-orang mencelanya. Maka Abu Darda yang mengetahui bagaimana mengobati jauhnya seseorang dari agama, bagaimana mengobati orang yang bermaksiat dan bagaimana mengobati hati yang sakit, beliau berkata kepada mereka (orang-orang yang mencela),
“Bagaimana menurut kalian, jika kalian mendapati dia berada di dalam jurang yang sangat dalam, apakah kalian akan menyelamatkannya?” Mereka menjawab, ‘Tentu!’. Lalu beliau berkata, “Maka pujilah Alloh yang telah menyelamatkan kalian, namun janganlah kalian mencela saudara kalian.”
“Pujilah Alloh yang telah menyelamatkan kalian, namun janganlah kalian mencela saudara kalian.” Lihatlah perumpamaan yang beliau sampaikan, bahwa orang-orang yang beriman jika mendapati seseorang telah melakukan suatu dosa, maka mereka tidak meninggalkannya. Beliau memberikan perumpamaan seperti seorang yang berada di dalam jurang, di dalam jurang yang dalam dan tidak mendapati seorang penyelamat pun. Lalu apa yang akan dilakukan oleh orang-orang yang beriman terhadap saudara mereka yang terjerumus ke dalam perkara yang membinasakan? Apakah mereka akan mencelanya dan mengatakan, kenapa kamu masuk ke dalam jurang ini? Kenapa kamu menyebabkan dirimu seperti ini, dan seterusnya? Tidak, bahkan orang-orang yang beriman akan berusaha menolongnya dan bersungguh-sungguh untuk menolongnya.
Jika demikian, maka perkara negativ (perkara yang buruk) itulah yang dicela. Hanya saja celaan terhadap pelaku kemaksiatan tidak dibolehkan oleh syariat, akan tetapi kita memintakan hidayah kepada Alloh untuk saudara-saudara kita dan kita memuji Alloh yang telah menyelamatkan kita. Kemudian, kita berusaha untuk menyelamatkan mereka dari keburukan dosa dan maksiat, karena mereka tidaklah berbuat dosa melainkan karena menjadi mangsa makarnya iblis, musuh Alloh dan musuh kita.
Maka wasiat ini wahai kaum mukminin, adalah wasiat yang agung. Jika engkau melihat seseorang terjerumus dalam maksiat, maka engkau harus mengerahkan tali (pertolongan) untuknya. Wahai saudara-saudara sekalian, jika kita memperhatikan zaman kita sekarang ini, kita mendapati bahwa kebanyakan manusia ketika mendengar orang lain melakukan maksiat, engkau akan melihatnya mengatakan orang ini telah melakukan ini dan itu, dia pergi bersafar dan melakukan ini dan itu, keluarga ini seperti ini dan itu, engkau melihatnya mengkritik dan mencela dengan keras, bahkan mungkin mengolok-oloknya, semoga Alloh melindungi kita. Jika engkau bertanya kepadanya, apa yang telah engkau lakukan untuk saudaramu dengan meninggalkannya bersama dosa-dosa ini? Dia akan menjawab, aku belum melakukan sesuatupun.
Jika demikian, berarti ini juga termasuk salah satu dari wasilah syaithon (untuk menyesatkan manusia). Karena Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
إِذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ أَهْلَكَهُمْ
“Jika seseorang berkata (untuk mencela dan merendahkan), ‘manusia telah binasa’, maka dia berarti membinasakan mereka.” [HR. Muslim dan Malik]
Yakni, dia dengan keadaannya (meninggalkan dan mencela pelaku kemaksiatan-pen) itu menjadi sebab binasanya mereka (pelaku kemaksiatan-pen). Dan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam melarang kita menyampaikan segala sesuatu yang kita dengar. Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«مَنْ حَدَّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ» أَوْ قَالَ «أَحَدُ الْكَاذِبِيْنَ»
“Barangsiapa menyampaikan segala sesuatu yang dia dengar, berarti dia adalah salah satu dari dua pendusta.” Atau beliau bersabda, “salah satu dari para pendusta.” [Demikian hadits yang disampaikan oleh Syaikh, adapun lafadz dalam riwayat Muslim adalah, ‘Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika dia menyampaikan segala sesuatu yang dia dengar.’ Wallohu a’lam –pen]
Maka kita harus berusaha untuk memperbaiki kesalahan, menasihati orang yang berbuat dosa, menyembunyikan dosa-dosa (tidak menyebarkannya-pen) dan menyebarluaskan kebaikan-kebaikan. Jika kita melihat seseorang melakukan kebaikan, hendaknya kita mengatakan, ‘dia telah melakukan kebaikan ini dan itu.’ Maka dengan demikian kebaikan akan tersebar dan orang-orang akan saling meneladani dalam hal kebaikan. Adapun jika kita menyebarkan keburukan, maka orang-orang akan menganggapnya enteng. Misalnya, seseorang mengatakan, fulan telah melakukan maksiat ini, sedangkan dia telah melakukan ini dan dia telah melakukan ini. Maka orang akan menyangka bahwa keburukan lebih banyak dari pada kebaikan, sehingga dia pun menganggap enteng suatu keburukan dan akhirnya melakukannya.
Weni RamadhaniSemoga Alloh merahmati dan meridhoi Abu Darda, memberi balasan kepada beliau dengan balasan yang baik dari sahabat-sahabatnya dan umat setelahnya.
الحمد لله رب العالمين
Sumber: Albamalanjy.wordpress.com dan dipublikasikan ulang oleh: ibnuabbaskendari.wordpress.com